Posts

16032026 - q27

 51.47 Dan langit Kami bangun dengan kekuasaan, dan Kami benar-benar meluaskannya. (“And the heaven We constructed with strength, and indeed, We are surely expanding it.” The word lamūsiʿūn is in the active participle form, which can imply an ongoing action or continuous ability. Because of this, some modern readers relate the verse to the idea that the universe is expanding.) 51.49 Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan agar kamu mengingat (pairing is a feature of creation itself, while Allah is unique and without a pair. Everything else exists with a counterpart or opposite, which highlights the Creator’s uniqueness.) 51.52-54 Demikianlah setiap kali seorang Rasul yang datang kepada orang-orang yang sebelum mereka, mereka pasti mengatakan, “Dia itu pesihir atau orang gila.” Apakah mereka saling berpesan tentang apa yang dikatakan itu. Sebenarnya mereka adalah kaum yang melampaui batas. Maka berpalinglah engkau dari mereka, dan engkau sama sekali tidak tercela. ("“Di...

15032026 - q26

 #1 46.15 Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya.  Ibunya telah mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah. Masa mengandung sampai menyapihnya selama tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya mencapai empat puluh tahun dia berdoa, “Ya Tuhanku, berilah aku petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau limpahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan agar aku dapat berbuat kebajikan yang Engkau ridai; dan berilah aku kebaikan yang akan mengalir sampai kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada Engkau dan sungguh, aku termasuk orang muslim.” (The verse adds that the period of pregnancy and weaning totals thirty months. Many exegetes, explain that forty is considered the age of complete intellectual and spiritual maturity. At this stage a righteous person becomes deeply aware of God’s favors and prays for the ability to show gratitude. The supplication mentioned...

14032026 - q25

 41.50 Dan jika Kami berikan kepadanya suatu rahmat dari Kami setelah ditimpa kesusahan, pastilah dia berkata, “Ini adalah hakku" "dan aku tidak yakin bahwa hari Kiamat itu akan terjadi. Dan jika aku dikembalikan kepada Tuhanku, sesungguhnya aku akan memperoleh kebaikan di sisi-Nya.” (When a person suffers difficulty—poverty, illness, or loss—and then later receives relief or prosperity, he interprets the blessing as something he deserves. Instead of seeing it as a test or a mercy from God, he assumes it is the natural result of his own merit or status. Because of that mindset, he also becomes dismissive of the Day of Judgment. He says, in effect: “I do not believe the Hour will come.” Yet he adds a contradictory claim: even if there were a return to God, he imagines he would still receive the best reward.The speaker denies the Resurrection, yet simultaneously assumes that if it did happen, he would be favored anyway.) 41.53 Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda ...

13032026 - q24

 #1 39.41 Sungguh, Kami menurunkan kepadamu Kitab dengan membawa kebenaran untuk manusia; barangsiapa mendapat petunjuk maka untuk dirinya sendiri, dan siapa sesat maka sesungguhnya kesesatan itu untuk dirinya sendiri, dan engkau bukanlah orang yang bertanggung jawab terhadap mereka. 39.42 Allah memegang nyawa pada saat kematiannya dan nyawa yang belum mati ketika dia tidur; maka Dia tahan nyawa yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia lepaskan nyawa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda Allah bagi kaum yang berpikir. 39.49-50 Maka apabila manusia ditimpa bencana dia menyeru Kami, kemudian apabila Kami berikan nikmat Kami kepadanya dia berkata, “Sesungguhnya aku diberi nikmat ini hanyalah karena kepintaranku.” Sebenarnya, itu adalah ujian, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. Sungguh, orang-orang yang sebelum mereka pun telah mengatakan hal itu, maka tidak berguna lagi bagi mereka apa yang dahulu mereka kerjakan. 39.52...

12032026 - q23

 36.36 Mahasuci yang telah menciptakan semuanya berpasang-pasangan, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka sendiri, maupun dari apa yang tidak mereka ketahui. 36.38 dan matahari berjalan di tempat peredarannya. 36.52 [In the context of Surah Yasin (36:52), a Saktah (سكتة) is a specific Tajweed rule that requires the reciter to take a brief pause without breathing. Think of it as a "breathless pause" that lasts for about 1-2 counts (roughly one second) before continuing the verse. The Saktah here occurs after the word marqadinā (our sleeping place). It serves a critical linguistic and theological purpose: it separates two different speakers. Before the pause: The disbelievers are speaking in shock as they are resurrected. "Woe to us! Who has raised us from our sleeping place?" After the pause: The angels (or the believers) respond to them: "This is what the Most Merciful had promised, and the messengers told the truth." If you were to...

11032026 - q22

 33.32 Wahai istri-istri Nabi! Kamu tidak seperti perempuan-perempuan yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga bangkit nafsu orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik. (The instruction “do not be soft in speech” is explained in tafsir as avoiding flirtatious, overly gentle, or suggestive tones that might invite inappropriate intentions. The concern mentioned in the verse—“one in whose heart is a disease”—is interpreted by scholars as referring to people with immoral desires or hypocrisy. The instruction therefore acts as a social safeguard rather than a prohibition on ordinary communication. The phrase “speak in an appropriate manner” clarifies that normal, respectful conversation is still allowed when necessary. Tafsir writers stress that the verse does not demand silence or isolation; it simply requires dignity, seriousness, and clear boundaries in speech.) (When the verse says “do not be soft in speech”, c...