14032026 - q25

 41.50

Dan jika Kami berikan kepadanya suatu rahmat dari Kami setelah ditimpa kesusahan, pastilah dia berkata, “Ini adalah hakku"


"dan aku tidak yakin bahwa hari Kiamat itu akan terjadi. Dan jika aku dikembalikan kepada Tuhanku, sesungguhnya aku akan memperoleh kebaikan di sisi-Nya.”


(When a person suffers difficulty—poverty, illness, or loss—and then later receives relief or prosperity, he interprets the blessing as something he deserves. Instead of seeing it as a test or a mercy from God, he assumes it is the natural result of his own merit or status.


Because of that mindset, he also becomes dismissive of the Day of Judgment. He says, in effect: “I do not believe the Hour will come.” Yet he adds a contradictory claim: even if there were a return to God, he imagines he would still receive the best reward.The speaker denies the Resurrection, yet simultaneously assumes that if it did happen, he would be favored anyway.)


41.53

Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur'an itu adalah benar.


41.54

Ingatlah, sesungguhnya mereka dalam keraguan tentang pertemuan dengan Tuhan mereka. 


#1


42.12

Milik-Nyalah perbendaharaan langit dan bumi; Dia melapangkan rezeki dan membatasinya bagi siapa yang Dia kehendaki. Sungguh, Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.


42.13

diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah di dalamnya.


(The following instruction, “do not be divided within it,” addresses the tendency of religious communities to fragment into sectarian disputes. Tafsir literature often notes that earlier communities fell into division after receiving revelation, turning differences into conflicts.)


42.15

Karena itu, serulah dan tetaplah sebagaimana diperintahkan kepadamu dan janganlah mengikuti keinginan mereka dan katakanlah, “Aku beriman kepada Kitab yang diturunkan Allah dan aku diperintahkan agar berlaku adil di antara kamu. Allah Tuhan kami dan Tuhan kamu. Bagi kami perbuatan kami dan bagi kamu perbuatan kamu. Tidak ada pertengkaran antara kami dan kamu, Allah mengumpulkan antara kita dan kepada-Nyalah kembali.”


#2


42.19

Allah Mahalembut terhadap hamba-hamba-Nya; Dia memberi rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki dan Dia Mahakuat, Mahaperkasa.


(latīf combines the ideas of subtle kindness, gentleness, and hidden care. God’s kindness toward His servants often operates in ways they do not immediately perceive. He arranges circumstances, provides sustenance, and guides people through means that may appear ordinary but are in fact part of a deeper divine wisdom.


One aspect emphasized in tafsir is that God sometimes withholds or grants provision in a measured way out of mercy. Other Qur’anic verses explain that if wealth were expanded for everyone without limit, many people might become arrogant or corrupt. Thus divine gentleness includes regulating provision according to what ultimately benefits each person.


The phrase “He provides for whom He wills” therefore reflects God’s complete authority over rizq (sustenance). Sustenance is not limited to wealth; commentators often include health, knowledge, opportunities, and spiritual guidance as forms of provision. The verse reminds believers that these are distributed according to divine wisdom rather than purely human effort.)


42.20

Barangsiapa menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambahkan keuntungan itu baginya dan barangsiapa menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian darinya, tetapi dia tidak akan mendapat bagian di akhirat.


(a person whose efforts are directed only toward worldly gain—wealth, status, or recognition—may still receive some portion of those worldly benefits. God may allow them to obtain what they seek in this life. However, because their intention never extended beyond worldly results, they will have no portion in the reward of the Hereafter.)


42.27

Dan sekiranya Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya niscaya mereka akan berbuat melampaui batas di bumi, tetapi Dia menurunkan dengan ukuran yang Dia kehendaki. Sungguh, Dia Mahateliti terhadap hamba-hamba-Nya, Maha Melihat.


#3


42.36-43

Apa pun yang diberikan kepadamu, maka itu adalah kesenangan hidup di dunia. 


Sedangkan apa yang ada di sisi Allah lebih baik dan lebih kekal bagi orang-orang yang beriman, dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal,


dan juga orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji, dan apabila mereka marah segera memberi maaf,


dan orang-orang yang menerima seruan Tuhan dan melaksanakan salat, sedang urusan mereka dengan musyawarah antara mereka; dan mereka menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka,


dan orang-orang yang apabila mereka diperlakukan dengan zalim, mereka membela diri.


Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang setimpal, tetapi barangsiapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya dari Allah. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang zalim.


Tetapi orang-orang yang membela diri setelah dizalimi, tidak ada alasan untuk menyalahkan mereka. Sesungguhnya kesalahan hanya ada pada orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di bumi tanpa kebenaran. Mereka itu mendapat siksa yang pedih.


Tetapi barangsiapa bersabar dan memaafkan, sungguh yang demikian itu termasuk perbuatan yang mulia.


42.48

Jika mereka berpaling, maka  Kami tidak mengutus engkau sebagai pengawas bagi mereka. Kewajibanmu tidak lain hanyalah menyampaikan.


42.49

Milik Allah-lah kerajaan langit dan bumi; Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki, memberikan anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak laki-laki kepada siapa yang Dia kehendaki, atau Dia menganugerahkan jenis laki-laki dan perempuan, dan menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Dia Maha Mengetahui, Mahakuasa.


(the verse emphasizes divine control over human reproduction and family outcomes. the birth of children—whether sons, daughters, both, or none—is ultimately determined by God’s will.


The order mentioned in the passage is also discussed: daughters are mentioned before sons in one part of the verse, which some commentators interpret as a subtle correction to the cultural preference that favored males.


The verse also addresses the reality that some people remain childless. Tafsir literature generally stresses that barrenness should not be seen purely as misfortune or punishment. Rather, it is part of God’s wisdom in distributing different conditions among people.


The verse concludes with two divine attributes: God is All-Knowing and All-Powerful. Commentators explain that this means God fully understands the hidden reasons behind how families are formed and has complete ability to bring about any of these outcomes.)


42.52

Kami jadikan Al-Qur'an itu cahaya, dengan itu Kami memberi petunjuk siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sungguh, engkau benar-benar membimbing kepada jalan yang lurus.


#4


43.11

Dan yang menurunkan air dari langit menurut ukuran lalu dengan air itu Kami hidupkan negeri yang mati. Seperti itulah kamu akan dikeluarkan.


43.18

(The phrase “brought up in adornment” refers to the social custom that girls were typically raised with jewelry and decorative clothing. The phrase “unable to express clearly in dispute” reflects the stereotype held in that society that women were not expected to participate in public debates or conflicts. )


43.20

Dan mereka berkata, “Sekiranya Yang Maha Pengasih menghendaki, tentulah kami tidak menyembah mereka.” Mereka tidak mempunyai ilmu sedikit pun tentang itu. Tidak lain mereka hanyalah menduga-duga belaka.


43.32

Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kamilah yang menentukan penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat memanfaatkan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.


(The verse then points out that differences in wealth and status are part of how human society functions. People are given different abilities, resources, and positions so that they depend on one another in practical life—through work, trade, and cooperation. Tafsir writers stress that this hierarchy is not meant to indicate spiritual superiority; it simply reflects the structure of worldly life.)


#5


43.43-44

Maka berpegang teguhlah engkau kepada yang telah diwahyukan kepadamu. Sungguh, engkau berada di jalan yang lurus. Dan sungguh, Al-Qur'an itu benar-benar suatu peringatan bagimu dan bagi kaummu, dan kelak kamu akan diminta pertanggungjawaban.


#6


43.51-54

Dan Fir‘aun berseru kepada kaumnya berkata, “Wahai kaumku! Bukankah kerajaan Mesir itu milikku dan sungai-sungai ini mengalir di bawahku; apakah kamu tidak melihat?


Bukankah aku lebih baik dari orang yang hina ini dan yang hampir tidak dapat menjelaskan?


Maka mengapa dia tidak dipakaikan gelang dari emas atau malaikat datang bersama-sama dia untuk mengiringkannya?”


Maka dengan perkataan itu telah mempengaruhi kaumnya, sehingga mereka patuh kepadanya.


(Pharaoh claims that if Moses were truly chosen by God, he should have come with visible signs of wealth or royal status, such as golden bracelets or angels accompanying him. Commentators explain that Pharaoh is applying the same logic used by other opponents of prophets in the Qur’an: they judged truth by status and luxury, assuming that divine favor must appear through worldly grandeur.


Pharaoh persuaded and manipulated his people, and they obeyed him. The verse then explains why this happened: the people themselves had become corrupt and rebellious, which made them receptive to deception. Tafsir scholars interpret this as a moral observation that tyranny often succeeds when a society is already inclined toward wrongdoing.)


43.57<>43.61

Dan ketika putra Maryam dijadikan perumpamaan, tiba-tiba kaummu bersorak karenanya.

<>

Dan sungguh, dia itu benar-benar menjadi pertanda akan datangnya hari Kiamat.


(Jesus will return before the Day of Judgment. His future descent to earth will be one of the signs indicating that the final Hour is approaching.)


43.72

Dan itulah surga yang diwariskan kepada kamu disebabkan amal perbuatan yang telah kamu kerjakan.


#7

43.89

Maka berpalinglah dari mereka dan katakanlah, “Salam.” Kelak mereka akan mengetahui.


(“Turn away from them and say: Peace. They will soon come to know.”


the Prophet has delivered the guidance, the opponents have chosen rejection, and the ultimate outcome will be determined by God rather than by human argument or power.)


#8


44.34

Sesungguhnya mereka itu pasti akan berkata, ”Tidak ada kematian selain kematian di dunia ini. Dan kami tidak akan dibangkitkan, maka hadirkanlah nenek moyang kami jika kamu orang yang benar.”


44.38-39

Dan tidaklah Kami bermain-main menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya. Tidaklah Kami ciptakan keduanya melainkan dengan haq, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.


(creation was not made as a meaningless play or idle activity. Instead, it was created “in truth”, which they interpret as meaning with purpose, justice, and wisdom.)


44.54

(“Thus it will be. And We will marry them to companions with wide, beautiful eyes.”)


45.9

[that small letter nun (ن) is known as Nun al-Wiqayah (the "Nun of Protection") or Nun al-Tanwin.


The word preceding the "small nun" is syaian (شَيْئًا). Even though it ends in an alif, phonetically it ends with a Tanwin.


The next word, ittakhadha (اتَّخَذَ), starts with a Hamzatul Wasl (a connecting Hamza) followed by a doubled letter.


To "break" this meeting of two silents, a small Nun with a Kasra (the "ee" sound) is inserted to link them.


Written: ...syaian ittakhadzha...

Recited: ...shai-ya-nittakhadh-haa...]


45.14

Katakanlah kepada orang-orang yang beriman hendaklah mereka memaafkan orang-orang yang tidak takut akan hari-hari Allah karena Dia akan membalas suatu kaum sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.


(“Tell those who believe to forgive those who do not hope for the Days of Allah, so that He may recompense a people for what they used to earn.”


“forgive” in this verse means overlooking insults and avoiding revenge. The phrase “those who do not hope for the Days of Allah” refers to people who deny or ignore the times when God’s judgment and power become manifest.


God Himself will ultimately judge people according to their deeds. )


45.18

Kemudian Kami jadikan engkau mengikuti syariat  dari agama itu, maka ikutilah dan janganlah engkau ikuti keinginan orang-orang yang tidak mengetahui.


45.21-22

Apakah orang-orang yang melakukan kejahatan itu mengira bahwa Kami akan memperlakukan mereka seperti orang-orang yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, yaitu sama dalam kehidupan dan kematian mereka? Alangkah buruknya penilaian mereka itu.


Dan Allah menciptakan langit dan bumi dengan tujuan yang benar dan agar setiap jiwa diberi balasan sesuai dengan apa yang dikerjakannya, dan mereka tidak akan dirugikan.


45.23-24

Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat dengan sepengetahuan-Nya, dan Allah telah mengunci pendengaran dan hatinya serta meletakkan tutup atas penglihatannya? Maka siapa yang mampu memberinya petunjuk setelah Allah. Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?


Dan mereka berkata, “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup, dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa.” Tetapi mereka tidak mempunyai ilmu tentang itu, mereka hanyalah menduga-duga saja.


45.28-30

Dan engkau akan melihat setiap umat berlutut. Setiap umat dipanggil untuk buku catatan amalnya. Pada hari itu kamu diberi balasan atas apa yang telah kamu kerjakan.


“Inilah Kitab Kami yang menuturkan kepadamu dengan sebenar-benarnya. Sesungguhnya Kami telah menyuruh mencatat apa yang telah kamu kerjakan.”


Maka adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, maka Tuhan memasukkan mereka ke dalam rahmat-Nya. Demikian itulah kemenangan yang nyata.

Popular posts from this blog

020220250839a

23022025

13022025