07032026 - q18
23.1
Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, orang yang khusyuk dalam salatnya, dan orang yang menjauhkan diri dari yang tidak berguna, dan orang yang menunaikan zakat, dan orang yang memelihara kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka tidak tercela. Tetapi barang siapa mencari di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.
Dan orang yang memelihara amanat-amanat dan janjinya, serta orang yang memelihara salatnya.
(In 23:2, the emphasis is on the inner state during prayer. The word khushūʿ refers to humility, attentiveness, and spiritual focus before God. The verse therefore describes the quality of the experience inside the prayer itself—the believer’s heart is calm, sincere, and fully aware that they are standing before God.
In 23:9, the wording shifts to yuḥāfiẓūn ʿalā ṣalawātihim—“they guard their prayers.” The verb ḥāfaẓa implies careful preservation and consistency. Here the focus is not the internal feeling but the external discipline: performing the prayers regularly, observing their correct times, fulfilling their conditions, and not neglecting them.
Many exegetes therefore describe the two verses as framing prayer from beginning to end. The passage starts by highlighting the spiritual depth of prayer and closes by stressing its regular observance and protection.
Some scholars also note a literary feature: the list of believers’ qualities begins and ends with prayer. This structure emphasizes that ṣalāh is central to a believer’s life, surrounding all the other virtues mentioned between those two verses.)
(Compared with the other qualities—such as humility in prayer or avoidance of idle talk—the wording about sexuality does indeed take slightly more space. Classical commentators generally explain that this emphasis exists because sexual behavior is one of the strongest human impulses and therefore requires clearer boundaries.
The verses first describe believers as those “who guard their private parts.” That short statement alone could have been sufficient. However, the Qur’an immediately adds an explicit clarification: the only permitted outlets are spouses or those whom their right hands possess. After stating the lawful exception, the verse closes by saying that anyone seeking beyond that is a transgressor.)
(“And those who turn away from al-laghw.”
In classical Arabic, laghw refers to speech or activity that has no meaningful benefit. Early Qur’anic commentators explain that the word is intentionally broad.
Another point commentators frequently note is the verb “turn away” (yuʿriḍūn). The verse does not say believers aggressively attack or police others who engage in idle talk. Instead, it portrays them as simply disengaging. If they encounter pointless or degrading conversation, they choose not to participate. The emphasis is on self-control rather than confrontation.)
(Tafsir writers sometimes distinguish the two terms in this way: a trust is something given into your care, while a covenant is a promise you actively make. Mentioning both ensures that the verse covers responsibilities coming from either direction.)
#1
23.29
Dan berdoalah, “Ya Tuhanku, tempatkanlah aku pada tempat yang diberkahi, dan Engkau adalah sebaik-baik pemberi tempat.”
23.33-38
Dan berkatalah para pemuka orang kafir dari kaumnya dan yang mendustakan pertemuan hari akhirat serta mereka yang telah Kami beri kemewahan dan kesenangan dalam kehidupan di dunia :
“Ini tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, dia makan apa yang kamu makan, dan dia minum apa yang kamu minum.
Dan sungguh, jika kamu menaati manusia seperti kamu, niscaya kamu pasti rugi. Adakah dia menjanjikan kepada kamu, bahwa apabila kamu telah mati dan menjadi tanah dan tulang belulang, sesungguhnya kamu akan dikeluarkan?
Jauh! Jauh sekali apa yang diancamkan kepada kamu.tidak lain hanyalah kehidupan kita di dunia ini, kita mati dan hidup dan tidak akan dibangkitkan.
Dia tidak lain hanyalah seorang laki-laki yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah, dan kita tidak akan mempercayainya."
(“There is nothing except our worldly life. We die and we live, and we will not be resurrected.”
many past communities rejected their prophets primarily because they could not accept the idea of resurrection and divine judgment. )
23.51-57
Allah berfirman, “Wahai para rasul! Makanlah dari yang baik-baik, dan kerjakanlah kebajikan. Sungguh, Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Dan sungguh, inilah agama kamu, agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku.”
Kemudian mereka terpecah belah dalam urusannya menjadi beberapa golongan. Setiap golongan bangga dengan apa yang ada pada mereka. Maka biarkanlah mereka dalam kesesatannya sampai waktu yang ditentukan.
Apakah mereka mengira bahwa Kami memberikan harta dan anak-anak kepada mereka itu. Kami segera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? tetapi mereka tidak menyadarinya.
Sungguh, orang-orang yang karena takut Tuhannya, mereka sangat berhati-hati.
(Verse 23:53 then says that people split their religion among themselves into sects, each group rejoicing in what it has. Classical tafsir explains that this refers to how later followers divided into factions after the prophets had already delivered a clear and unified message. Instead of preserving that unity, communities formed separate groups built around their own interpretations, leaders, or traditions. The phrase describing each group being pleased with its own position suggests a kind of self-satisfaction: every faction believes it alone possesses the truth and therefore feels no need to reconsider its position.
Commentators often note that the wording “they cut their affair among themselves” conveys an image of something originally whole that has been broken into pieces. The implication in tafsir is that religious fragmentation was not part of the original revelation but arose later through human disagreement, rivalry, or attachment to particular authorities.
Verse 23:54 then tells the Prophet to leave them in their confusion for a time. Tafsir writers explain that this does not mean approving their divisions. Rather, it indicates that those who stubbornly persist in sectarian disputes and reject guidance will remain in a state of heedlessness and delusion until the consequences of their choices become clear. The phrase “for a time” is often interpreted as referring either to the duration of their worldly life or until divine judgment eventually confronts them.)
#2
(The verses say, in essence, that when such people are given wealth and children, they assume that these blessings mean God is hastening good things for them. The Qur’an immediately responds: they do not realize the real situation.
these verses criticize the idea that worldly success automatically proves divine approval. Some wealthy or powerful individuals believed that their prosperity showed they were favored by God and therefore could not be in the wrong. Because they had material advantages—large families, social status, and wealth—they interpreted these as signs that their beliefs and actions must be correct.
The Qur’an challenges that assumption. The Arabic wording can imply that people are being given more and more of what they desire, not as confirmation of righteousness but as a test of how they respond)
23.62
Dan Kami tidak membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya, dan pada Kami ada suatu catatan yang menuturkan dengan sebenarnya, dan mereka tidak dizalimi
23.74
Dan sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat benar-benar telah menyimpang jauh dari jalan
#3
(The Arabic letter ط (called ṭāʼ) represents a consonant that does not exist in English or Indonesian, so it often requires some deliberate practice. It belongs to a group of Arabic sounds known as emphatic consonants.
The basic starting point is the ordinary t sound. Your tongue touches the upper gum ridge just behind the upper teeth, similar to how you pronounce the letter ت. But with ط, you add a second feature: the back of the tongue rises slightly toward the soft palate, creating a deeper, heavier resonance in the mouth. Linguists describe this as pharyngealization or “emphasis.”
When pronounced correctly, the sound feels thicker and darker than a normal t.
In Qur’anic recitation and classical pronunciation, ط is considered one of the ḥurūf al-istiʿlāʾ—letters produced with the tongue raised toward the roof of the mouth—which is what gives it that characteristic heavy quality.)
23.96
Tolaklah perbuatan buruk mereka dengan yang lebih baik, Kami lebih mengetahui apa yang mereka sifatkan
#4
#5
24.11
Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu. Janganlah kamu mengira berita itu buruk bagi kamu bahkan itu baik bagi kamu. Setiap orang dari mereka akan mendapat balasan dari dosa yang diperbuatnya. Dan barangsiapa di antara mereka yang mengambil bagian terbesar dia mendapat azab yang besar.
Mengapa orang-orang mukmin dan mukminat tidak berbaik sangka terhadap diri mereka sendiri, ketika kamu mendengar berita bohong itu dan berkata, “Ini adalah bohong yang nyata.”
Mengapa mereka tidak datang membawa empat saksi? Oleh karena mereka tidak membawa saksi-saksi, maka mereka itu dalam pandangan Allah adalah orang-orang yang berdusta.
Dan seandainya bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepadamu di dunia dan di akhirat, niscaya kamu ditimpa azab yang besar, disebabkan oleh pembicaraan kamu tentang hal itu .
ketika kamu menerima itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit pun, dan kamu menganggapnya remeh, padahal dalam pandangan Allah itu soal besar.
Dan mengapa kamu tidak berkata ketika mendengarnya, “Tidak pantas bagi kita membicarakan ini. Mahasuci Engkau, ini adalah kebohongan yang besar.”
Allah memperingatkan kamu agar kembali mengulangi seperti itu selama-lamanya, jika kamu orang beriman.
dan Allah menjelaskan ayat-ayat kepada kamu. Dan Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana.
Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar perbuatan yang sangat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, mereka mendapat azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.
24.22
Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka akan memberi kepada kerabat, orang-orang miskin dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.
24.28-29
Dan jika kamu tidak menemui seorang pun di dalamnya, maka janganlah kamu masuk sebelum kamu mendapat izin. Dan jika dikatakan kepadamu, “Kembalilah!” Maka kamu kembali. Itu lebih suci bagimu, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Tidak ada dosa atasmu memasuki rumah yang tidak dihuni, yang di dalamnya ada kepentingan kamu; Allah mengetahui apa yang kamu nyatakan dan apa yang kamu sembunyikan.
24.30-31
Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu, lebih suci bagi mereka. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.
Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali yang terlihat.
Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau para perempuan mereka, atau hamba sahaya yang mereka miliki, atau para pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat perempuan.
Dan janganlah mereka menghentakkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan.
Dan bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.
(A major point of discussion in tafsir concerns the phrase “not to display their adornment except what ordinarily appears.” Commentators differ slightly in explaining what this refers to.
The verse also contains instructions against stamping the feet in a way that reveals hidden adornments, which commentators say refers to actions intended to draw attention. The broader point is to avoid behavior designed to attract sexual attention.
The verse lists categories of people before whom a woman does not have to observe the same level of covering as she would with unrelated men. Classical tafsir generally explains that these categories correspond to what Islamic law later calls maḥram relationships. A maḥram is a relative with whom marriage is permanently forbidden. Because marriage between these individuals is legally impossible, the social rules governing interaction are more relaxed than with unrelated men.
The rule assumes a normal social expectation of trust and familial boundaries. In most societies, relationships like father–daughter, uncle–niece, or father-in-law–daughter-in-law are structured by strong cultural and moral prohibitions against sexual relations. The verse operates within that assumption.
This two examples illustrate how the rule works. A father-in-law becomes permanently unmarriageable to the woman once she marries his son; Islamic law treats him as a maḥram from that point onward. Similarly, a brother’s son (a nephew) is a blood relative with whom marriage is forbidden. Because of this permanent prohibition, the Qur’an groups them with close family members in the list.
the rule helps structure two different social zones: the family sphere and the broader society where marriage partnerships may occur.
Another justification discussed in Islamic legal literature is practical social life. Families live together, travel together, and assist each other in daily tasks. If the same level of separation applied to all men and women, ordinary family life would become extremely difficult. The maḥram system therefore allows normal interaction within close family relationships while still maintaining modesty rules with unrelated individuals.)
#6
24.32
Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kamu, dan juga orang-orang yang layak dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui.
(believers should marry the unmarried among them and the righteous among their male and female servants, adding that if they are poor, God will enrich them from His bounty, and that God is all-encompassing in knowledge and provision.
Classical tafsir explains that this verse encourages the promotion of marriage within the community. Instead of leaving unmarried people without support, believers are urged to help facilitate marriages for those who are single. The instruction is often understood as addressing guardians, families, and the broader community, encouraging them to assist in arranging or enabling lawful marriages.
Another important point in the verse is the reassurance regarding poverty. Some people hesitate to marry because they fear they cannot financially support a family. The verse responds to this concern by stating that if the individuals are poor, God may grant them provision from His bounty. Tafsir writers interpret this as encouragement not to delay marriage solely because of financial anxiety.)
24.33
Dan orang-orang yang tidak mampu menikah hendaklah menjaga kesuciannya, sampai Allah memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya.
(those who cannot find the means to marry to remain chaste until God enriches them from His bounty. Classical tafsir explains that this instruction recognizes a real difficulty: not everyone is immediately able to marry because of social circumstances. In that situation, believers are encouraged to exercise patience and self-control rather than falling into illicit relationships. The verse reassures them that their situation may change through God’s provision.)
24.37-38
orang yang tidak dilalaikan oleh perdagangan dan jual beli dari mengingat Allah, melaksanakan salat, dan menunaikan zakat. Mereka takut kepada hari ketika hati dan penglihatan menjadi guncang. agar Allah memberi balasan kepada mereka dengan yang lebih baik daripada apa yang telah mereka kerjakan, dan agar Dia menambah karunia-Nya kepada mereka. Dan Allah memberi rezeki kepada siapa saja yang Dia kehendaki tanpa batas.
#7
24.45
Dan Allah menciptakan semua jenis hewan dari air, maka sebagian ada yang berjalan di atas perutnya dan sebagian berjalan dengan dua kaki, sedang sebagian berjalan dengan empat kaki. Allah menciptakan apa yang Dia kehendaki. Sungguh, Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.
#8
24.55
Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, bahwa Dia sungguh, akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh, Dia akan meneguhkan bagi mereka dengan agama yang telah Dia ridai. Dan Dia benar-benar mengubah mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa.
24.58
Wahai orang-orang yang beriman! Hendaklah hamba sahaya yang kamu miliki, dan orang-orang yang belum balig di antara kamu, meminta izin kepada kamu pada tiga kali yaitu, sebelum salat Subuh, ketika kamu menanggalkan pakaianmu di tengah hari, dan setelah salat Isya. tiga aurat bagi kamu.
Tidak ada dosa bagimu dan tidak bagi mereka selain dari itu; mereka keluar masuk melayani kamu, sebagian kamu atas sebagian yang lain. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat itu kepadamu. Dan Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana.
(The verse calls these moments “three times of privacy” (thalāthu ʿawrāt lakum). In tafsir, the word ʿawrah here refers to situations where a person’s body or private life might normally be uncovered within the family setting. The rule therefore protects the dignity of household members even within their own homes.)
24.60
Dan para perempuan tua yang telah berhenti yang tidak ingin menikah maka tidak ada dosa menanggalkan pakaian mereka dengan tidak menampakkan perhiasan; tetapi memelihara kehormatan adalah lebih baik bagi mereka. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.
24.61
(It discusses social etiquette and hospitality, particularly regarding eating in the homes of relatives and trusted companions.
Classical tafsir explains that the opening reference to the blind, lame, and sick relates to earlier social attitudes in which some people felt uncomfortable eating with those who had disabilities or illnesses. Others avoided eating from communal food with them out of concern or embarrassment. The verse clarifies that such concerns should not prevent normal social interaction; people with disabilities should not be excluded from shared meals.
The verse then lists a number of family homes where eating is permitted without hesitation: the homes of parents, children, siblings, paternal and maternal relatives, and others whose houses a person has access to or responsibility over. Tafsir writers explain that this reflects the close trust and mutual support expected within extended families. These homes are treated almost as extensions of one’s own household.
The verse also mentions the homes of friends, indicating that trusted friendships can also include this kind of relaxed hospitality.
Another part of the verse clarifies that there is no blame whether people eat together or separately. Tafsir explains that some individuals believed meals had to be shared in groups to be proper, while others sometimes preferred to eat alone. The verse removes any moral concern about either practice.
Finally, the verse instructs believers that when they enter houses they should greet one another with peace. Tafsir interprets this greeting as a way of maintaining warmth, respect, and goodwill within family and social spaces.)
Tidak ada halangan bagi orang buta, tidak bagi orang pincang, tidak bagi orang sakit, dan tidak bagi dirimu, makan di rumah kamu atau di rumah bapak-bapakmu, di rumah ibu-ibumu, di rumah saudara-saudaramu yang laki-laki, di rumah saudara-saudaramu yang perempuan, di rumah saudara-saudara bapakmu yang laki-laki, di rumah saudara-saudara bapakmu yang perempuan, di rumah saudara-saudara ibumu yang laki-laki, di rumah saudara-saudara ibumu yang perempuan, yang kamu miliki kuncinya atau kawan-kawanmu.
Tidak ada halangan bagi kamu makan bersama-sama mereka atau sendiri-sendiri.
Apabila kamu memasuki rumah-rumah hendaklah kamu memberi salam kepada dirimu sendiri, dengan salam yang penuh berkah dan baik dari sisi Allah. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat bagimu, agar kamu mengerti.
24.62
(The verse states that true believers are those who believe in God and His Messenger and, when they are with him on a collective matter, they do not leave until they ask his permission.)
24.63
Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul di antara kamu seperti panggilan sebagian kamu kepada sebagian.
25.2
Dia menciptakan segala sesuatu, lalu menetapkan ukuran-ukurannya dengan tepat.
(this means every element of creation has been given its form, function, and measure according to divine wisdom. Nothing in the universe exists randomly; everything has been arranged with purpose and balance.)
25.20
Dan Kami jadikan sebagian kamu sebagai cobaan bagi sebagian yang lain. Maukah kamu bersabar? Dan Tuhanmu Maha Melihat.