28022026 - q11

 9.94

lalu Dia memberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan


9.105

Dan katakanlah, “Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin, dan kamu akan dikembalikan kepada Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.”


(It suggests that faith is not merely a feeling but must be manifested through righteous deeds.


The Prophet & Believers: In the immediate context, this referred to the community in Madinah witnessing the actions of those who had repented. Broadly, it means that one’s character and actions eventually become known to the people. This implies that human actions are not isolated; they shape one’s reputation and standing in the community.


This verse follows verses about those who confessed their sins. It tells them: "Don't just stop at seeking forgiveness; now, get to work and prove your sincerity through your actions." Repentance must be followed by visible change. 


It discourages empty claims of belief and encourages productive, sincere effort. At the same time, it reminds that true evaluation is not in human hands but with Allah, who knows what is hidden.)


9.111

Mereka berperang di jalan Allah; sehingga mereka membunuh atau terbunuh,  janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan Al-Qur'an. 


(The verse says this covenant was mentioned in the Torah and the Gospel as well. This indicates continuity in divine guidance. The principle of sacrificing for truth and obedience to God was not new; it was part of earlier revelations too.Whether it was the followers of Moses, Jesus, or Muhammad (peace be upon them all), the "price" for eternal success has always been the same: sincerity and sacrifice.)


9.122

Dan tidak sepatutnya orang-orang mukmin itu semuanya pergi. Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar mereka dapat menjaga dirinya.


(Not all believers are meant to engage in military expeditions at once. Some must remain behind for another essential duty: learning and teaching.


To Gain Deep Understanding” (li-yatafaqqahū)

The word used here is from the root ف ق ه (f-q-h), which means to deeply understand. From this root comes the term “fiqh,” meaning jurisprudence or deep comprehension of religion. This shows that scholarship is not secondary in Islam. It is a communal obligation. Just as defense of the community is necessary, so is preservation and explanation of divine guidance.


The verse introduces an important principle in Islamic thought: collective obligation (farḍ kifāyah). Not every individual must perform every task. As long as some members fulfill the responsibility of seeking knowledge, the community as a whole is upheld.It prevents two extremes: – A community focused only on activism without knowledge. – A community focused only on study without engagement.


The goal of seeking knowledge is not personal prestige. It is to return and guide others. Knowledge is therefore tied to responsibility. Learning must lead to teaching and reform.


It also shows that intellectual effort is a form of service equal in importance to physical struggle. The survival of the faith depends not only on defending territory but on preserving understanding.


In summary, 9:122 teaches that a healthy believing community requires specialization: some strive outwardly, others strive intellectually. Both roles are essential.)


9.123

Wahai orang yang beriman! Perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu, dan hendaklah mereka merasakan sikap tegas darimu.


(The word translated as “firmness” in 9:123 is ghilẓah (غِلْظَة), from the root غ ل ظ (gh-l-ẓ), a root that fundamentally conveys thickness, density, and hardness.


From a purely linguistic standpoint, the root does not originally describe emotion. It describes physical texture. Classical Arabic uses ghalīẓ for something thick, coarse, or rough in substance. For example: Thick fabric. Coarse skin. Dense or heavy matter.


Over time, the root expanded metaphorically from physical thickness to moral or behavioral firmness. Just as thick material resists penetration, a person described with ghilẓah is resistant, unyielding, and not easily swayed.


However, ghilẓah can also carry a negative sense depending on context. For example, in another verse, the Prophet is told that if he had been harsh and hard-hearted (ghalīẓ al-qalb), people would have dispersed from around him. There, the term describes emotional harshness that repels others.


In this verse, ghilẓah is used in a military context. The meaning shifts toward firmness, toughness, and visible strength. It suggests: Not appearing weak. Not being easily intimidated. Showing disciplined severity when necessary.)


(In 9:123 of the Qur'an, the word translated “fight” is qātilū (قَاتِلُوا)


The root is ق ت ل (q-t-l). At its most basic level, this root relates to killing or causing death. The simple verb form qatala means “he killed.” However, the Qur’an in this verse does not use qatala. It uses qātala, which belongs to Form III of Arabic verb patterns.


In Arabic morphology, Form III (فَاعَلَ – fā‘ala) often carries the meaning of reciprocity or mutual engagement between two sides. Form III implies interaction between two parties. It suggests combat or confrontation rather than unilateral killing.)


10.7-8

Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan itu, dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami, mereka itu tempatnya di neraka, karena apa yang telah mereka lakukan.


Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, niscaya diberi petunjuk oleh Tuhan karena keimanannya. Mereka di dalam surga yang penuh kenikmatan, mengalir di bawahnya sungai-sungai.


(A person who dismisses the Hereafter, who finds complete satisfaction in worldly comfort, who feels no existential anxiety about accountability, and who ignores signs pointing beyond material life.)


10.18

Dan mereka menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat mendatangkan bencana kepada mereka dan tidak memberi manfaat, dan mereka berkata, “Mereka itu adalah pemberi syafaat kami di hadapan Allah.”


10.19

Dan manusia itu dahulunya hanyalah satu umat, kemudian mereka berselisih. Kalau tidak karena suatu ketetapan yang telah ada dari Tuhanmu, pastilah telah diberi keputusan di antara mereka, tentang apa yang mereka perselisihkan itu.


10.23

selanjutnya kepada Kamilah kembalimu, kelak akan Kami kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.


10.24

Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu, hanya seperti air yang Kami turunkan dari langit, lalu tumbuhlah tanaman-tanaman bumi dengan subur , di antaranya ada yang dimakan manusia dan hewan ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, dan berhias, dan pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya, datanglah kepadanya azab Kami pada waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan nya seperti tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kepada orang yang berpikir.


10.36

Dan kebanyakan mereka hanya mengikuti dugaan. Sesungguhnya dugaan itu tidak sedikit pun berguna untuk melawan kebenaran.


10.39

Bahkan, mereka mendustakan apa yang mereka belum mengetahuinya dengan sempurna dan belum mereka peroleh penjelasannya.


10.52

Kamu tidak diberi balasan, melainkan dengan apa yang telah kamu lakukan


10.59

Katakanlah “Terangkanlah kepadaku tentang rezeki yang diturunkan Allah kepadamu, lalu kamu jadikan sebagiannya haram dan sebagiannya halal.” Katakanlah, “Apakah Allah telah memberikan izin kepadamu ataukah kamu mengada-ada atas nama Allah?”


10.61

Dan tidakkah engkau berada dalam suatu urusan, dan tidak membaca suatu ayat Al-Qur'an serta tidak pula kamu melakukan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu ketika kamu melakukannya. Tidak lengah sedikit pun dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar zarrah, baik di bumi ataupun di langit. Tidak ada sesuatu yang lebih kecil dan yang lebih besar daripada itu, melainkan semua tercatat dalam Kitab yang nyata.


10.62-64

Ingatlah wali-wali Allah itu, tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati. orang-orang yang beriman dan senantiasa bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan di akhirat.


("There will be no fear upon them, nor will they grieve” is a Qur’anic formula describing inner security. Fear usually concerns the future, and grief concerns the past.)


10.65

Dan janganlah engkau sedih oleh perkataan mereka. Sungguh, kekuasaan itu seluruhnya milik Allah. Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui.


10.66

Dan orang-orang yang menyeru sekutu-sekutu selain Allah, tidaklah mengikuti. Mereka hanya mengikuti persangkaan belaka, dan mereka hanyalah menduga-duga.


(And those who invoke others besides Allah do not truly follow partners; they follow nothing but assumption, and they do nothing but guess.)


10.69

Katakanlah, “Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tidak akan beruntung.”


10.81

Sungguh, Allah tidak akan membiarkan terus berlangsungnya pekerjaan orang yang berbuat kerusakan.


10.89

jangan sekali-kali kamu mengikuti jalan orang yang tidak mengetahui.


10.93

Sesungguhnya Tuhan kamu akan memberi keputusan antara mereka pada hari Kiamat tentang apa yang mereka perselisihkan itu.


10.96

Sungguh, orang-orang yang telah dipastikan mendapat ketetapan Tuhanmu, tidaklah akan beriman.


10.98

Maka mengapa tidak ada suatu negeri pun yang beriman, lalu imannya itu bermanfaat kepadanya selain kaum Yunus? Ketika mereka beriman, Kami hilangkan dari mereka azab yang menghinakan dalam kehidupan dunia, dan Kami beri kesenangan kepada mereka sampai waktu tertentu.


(The “people of Yunus” refers to the community of the Prophet Yunus, traditionally identified with Nineveh. Unlike other past nations mentioned in the Qur’an, they repented collectively before the punishment fully descended.


In most Qur’anic narratives, earlier communities only believed after witnessing the punishment, and at that point belief no longer benefited them. Here, however, the people of Yunus turned back in time.This makes them a rare example of mass repentance that succeeded.)


10.99-100

Dan jika Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang di bumi seluruhnya. Tetapi apakah kamu memaksa manusia agar mereka menjadi orang-orang yang beriman?

Dan tidak seorang pun akan beriman kecuali dengan izin Allah, dan Allah menimpakan azab kepada orang yang tidak mengerti.


10.107

Dan jika Allah menimpakan suatu bencana kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tidak ada yang dapat menolak karunia-Nya. Dia memberikan kebaikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Dia Maha Pengampun, Maha Penyayang


10.109

Dan ikutilah apa yang diwahyukan kepadamu, dan bersabarlah hingga Allah memberi keputusan. Dialah hakim yang terbaik.


11.3

Dan hendaklah kamu memohon ampunan kepada Tuhanmu dan bertobat kepada-Nya, niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik kepadamu sampai waktu yang telah ditentukan. Dan Dia akan memberikan karunia-Nya kepada setiap orang yang berbuat baik.

Popular posts from this blog

020220250839a

23022025

13022025