27022026 - q10
8.49
ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya berkata, “Mereka itu ditipu agamanya.” Barangsiapa bertawakal kepada Allah, ketahuilah bahwa Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana.
8.61
Tetapi jika mereka condong kepada perdamaian, maka terimalah dan bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui.
8.66
(The first ratio (1:10) represents the peak of spiritual strength. By keeping Verse 65 in the text, God eternally honors the companions who were capable of meeting that standard. It serves as a benchmark for what human faith is capable of achieving at its absolute highest level.
In Islamic jurisprudence (Usul al-Fiqh), keeping both verses establishes two different standards: The Legal Standard (8:66): You must stand firm if the ratio is 1:2. This is the law.
The Virtuous Standard (8:65): If a group chooses to stand firm against 1:10 out of extreme bravery and trust in God, they are acting upon the "original" spirit of excellence.)
8.73
Dan orang-orang yang kafir, sebagian mereka melindungi sebagian yang lain. Jika kamu tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah, niscaya akan terjadi kekacauan di bumi dan kerusakan yang besar.
8.74
Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan, mereka itulah orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki yang mulia.
9.10
Mereka tidak memelihara kekerabatan dengan orang mukmin dan tidak perjanjian. Dan mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.
9.12-13
Dan jika mereka melanggar sumpah setelah ada perjanjian, dan mencerca agamamu, maka perangilah pemimpin-pemimpin kafir itu. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang tidak dapat dipegang janjinya, mudah-mudahan mereka berhenti.
Mengapa kamu tidak memerangi orang-orang yang melanggar sumpah, dan telah merencanakan untuk mengusir Rasul, dan mereka yang pertama kali memerangi kamu? Apakah kamu takut kepada mereka, padahal Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti, jika kamu orang-orang beriman.
9.16
Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan padahal Allah belum mengetahui orang-orang yang berjihad di antara kamu dan tidak mengambil teman yang setia selain Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman. Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.
9.18
Sesungguhnya yang memakmurkan masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta melaksanakan salat, menunaikan zakat dan tidak takut kecuali kepada Allah. Maka mudah-mudahan mereka termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk.
9.23-24
Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu jadikan bapak-bapakmu dan saudara-saudaramu sebagai pelindung, jika mereka lebih menyukai kekafiran daripada keimanan. Barangsiapa di antara kamu yang menjadikan mereka pelindung, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.
Katakanlah, “Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai dari pada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.
9.29
Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian, mereka yang tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan Allah dan Rasul-Nya dan mereka yang tidak beragama dengan agama yang benar dari orang-orang yang telah diberikan Kitab, hingga mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.
9.31
Mereka menjadikan orang-orang alim dan rahib-rahibnya sebagai tuhan selain Allah
9.36
Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam itu, dan perangilah kaum musyrikin semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya. Dan ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang takwa.
9.38-39
Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa apabila dikatakan kepada kamu, “Berangkatlah di jalan Allah,” kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? Apakah kamu lebih menyenangi kehidupan di dunia daripada kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini di akhirat hanyalah sedikit.
Jika kamu tidak berangkat niscaya Allah akan menghukum kamu dengan azab yang pedih dan menggantikan kamu dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan merugikan-Nya sedikit pun. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.
(You might wonder why God is so stern here. Traditional Tafsir explains that the Roman (Byzantine) threat was an existential one. If the Muslims didn't mobilize, the entire community in Medina could have been wiped out. The "painful punishment" mentioned is interpreted as: In this life: Being conquered by enemies because of a lack of preparation. In the next life: Accountability for abandoning a necessary duty.
The sternness of the Quranic verses worked. Despite the heat and poverty, roughly 30,000 men mobilized. This was the largest force the Prophet ﷺ had ever led. Wealthy companions like Uthman ibn Affan and Abu Bakr donated massive portions of their wealth to fund the expedition, earning them legendary status in Islamic tradition.
The army marched about 600 kilometers from Medina to Tabuk (near the border of modern-day Saudi Arabia and Jordan). It was a brutal journey through the desert. Many struggled, and a few individuals turned back—the "hypocrites" mentioned later in Surah At-Tawbah stayed behind entirely.
When the Muslim army arrived at Tabuk, they found... nothing.
The Byzantine (Roman) forces and their Arab allies, who had reportedly been gathering, had retreated. Modern historians and classical biographers suggest that when the Romans heard a massive 30,000-man army was actually crossing the desert in the peak of summer, they decided that engaging was not worth the risk and withdrew into their fortified cities.
The Prophet ﷺ camped there for 20 days. No blood was shed.
While stationed at Tabuk, the Prophet ﷺ met with local Christian and Jewish leaders of the border regions (like the Governor of Ayla). They signed peace treaties and agreed to pay the Jizyah (the tribute mentioned in 9:29) in exchange for protection and autonomy.
It proved to the Roman Empire and the northern tribes that the Muslim state was now a regional superpower capable of projecting force far beyond Medina.
The Byzantine (Roman) Empire wasn't just a distant neighbor; they were a superpower that had recently defeated the Persians. They viewed the rising Islamic state as a rebel border threat.
If the Prophet ﷺ hadn't shown strength at Tabuk, the Romans and their Ghassanid (Arab Christian) allies would have likely viewed Medina as weak and divided.
Instead of retreating, the Roman vanguard would have pushed south. Medina, which was an oasis town and not a heavily fortified fortress like Constantinople, could have been sacked. The "painful punishment" mentioned in 9:39 could literally have meant the slaughter or enslavement of the early community.
At this time, many tribes across Arabia had only recently joined the Muslims (the "Year of Delegations"). Their loyalty was often tied to the perceived strength and divine backing of the Medina government. If the Prophet ﷺ called for a mobilization and no one showed up, it would have signaled a total loss of authority. The tribes would have defected immediately to save themselves. The "Hypocrites" (Munafiqun) inside Medina would have staged a coup, as they were already building their own base of operations (the "Mosque of Harm" mentioned in 9:107). Islam could have been reduced to a footnote in history—a short-lived movement that fizzled out in the desert.)
9.55
Maka janganlah harta dan anak-anak mereka membuatmu kagum. Sesungguhnya maksud Allah dengan itu adalah untuk menyiksa mereka dalam kehidupan dunia dan kelak akan mati dalam keadaan kafir.
9.60
(Derived from the word Faqar (meaning the vertebrae of the back). A Faqir is someone whose "back is broken" by poverty.
They have nothing or less than half of what they need to survive. They lack the absolute basics: food, shelter, or clothing.
Derived from the word Sukoon (meaning stillness). A Miskin is someone who has been "stilled" or humbled by their circumstances. They have a job or some income, but it is not enough to cover their basic needs. They might have 60% or 70% of what they need, but they are still struggling to make ends meet. They often appear self-sufficient. As the Prophet ﷺ described them, they are the ones who do not beg and whom people might think are wealthy because of their dignity (Iffah).)
9.64-66
Orang-orang munafik itu takut jika diturunkan suatu surah yang menerangkan apa yang tersembunyi di dalam hati mereka. Katakanlah, “Teruskanlah berolok-olok” Sesungguhnya Allah akan mengungkapkan apa yang kamu takuti itu.
Dan jika kamu tanyakan kepada mereka, niscaya mereka akan menjawab, “Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah, “Mengapa kepada Allah, dan ayat-ayat-Nya serta Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?”
Tidak perlu kamu meminta maaf, karena kamu telah kafir setelah beriman.
Dan jika kamu tanyakan kepada mereka, niscaya mereka akan menjawab, “Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah, “Mengapa kepada Allah, dan ayat-ayat-Nya serta Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?”
9.75-77
Dan di antara mereka ada orang yang telah berjanji kepada Allah, “Sesungguhnya jika Allah memberikan sebagian dari karunia-Nya kepada kami, niscaya kami akan bersedekah dan niscaya kami termasuk orang-orang yang saleh.” Ketika Allah memberikan kepada mereka sebagian dari karunia-Nya, mereka menjadi kikir dan berpaling, dan selalu menentang.
Maka Allah menanamkan kemunafikan dalam hati mereka sampai pada waktu mereka menemui-Nya, karena mereka telah mengingkari janji yang telah mereka ikrarkan kepada-Nya dan karena mereka selalu berdusta.
9.79
yaitu mereka yang mencela orang-orang beriman yang memberikan sedekah dengan sukarela dan yang orang-orang yang hanya memperoleh sekedar kesanggupannya, maka orang-orang munafik itu menghina mereka. Allah akan membalas penghinaan mereka, dan mereka akan mendapat azab yang pedih.
9.85
Dan janganlah engkau kagum terhadap harta dan anak-anak mereka. Sesungguhnya dengan itu Allah hendak menyiksa mereka di dunia dan agar nyawa mereka melayang, sedang mereka dalam keadaan kafir.
9.91-93
Tidak ada dosa atas orang yang lemah, orang yang sakit dan orang yang tidak memperoleh apa yang akan mereka infakkan, apabila mereka berlaku ikhlas kepada Allah dan Rasul-Nya. Tidak ada alasan apa pun untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang,
dan tidak ada atas orang-orang yang datang kepadamu, agar engkau memberi kendaraan kepada mereka, lalu engkau berkata, “Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu,” lalu mereka kembali, sedang mata mereka bercucuran air mata karena sedih, disebabkan mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka infakkan.
Sesungguhnya alasan hanyalah terhadap orang-orang yang meminta izin kepadamu, padahal mereka orang kaya. Mereka rela berada bersama orang-orang yang tidak ikut berperang dan Allah telah mengunci hati mereka, sehingga mereka tidak mengetahui.
(God explicitly lists those who are legally excused from the "hardship" of the Tabuk expedition: The Weak (Du'afa): The elderly and those naturally frail. The Ill (Marda): Those suffering from physical sickness or disability. The Needy: Those who have the strength but lack the financial means to equip themselves for a 600km journey.
The Condition: They are only excused if they remain "sincere to Allah and His Messenger." This means even if their bodies are at home, their hearts, tongues, and support are with the believers.
The Quran clarifies that guilt is not a matter of action, but of capacity vs. will. The Rich Hypocrites: These people had the horses, the money, and the health. Yet, they begged for permission to stay behind with the "women and children" (those who are naturally exempt).)