25022026 - q8

  6.116-117

Dan jika kamu mengikuti kebanyakan orang di bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Yang mereka ikuti hanya persangkaan belaka dan mereka hanyalah membuat kebohongan.


Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya, dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.


6.123

Dan demikianlah pada setiap negeri Kami jadikan pembesar-pembesar yang jahat agar melakukan tipu daya di negeri itu. Tapi mereka hanya menipu diri sendiri tanpa menyadarinya.


(Some tafsir works also connect this verse to earlier patterns in the stories of past prophets: when a prophet appeared, the strongest opposition often came from influential leaders of the society rather than ordinary people.)


6.124

Dan apabila datang suatu ayat kepada mereka, mereka berkata, “Kami tidak akan percaya sebelum diberikan kepada kami seperti apa yang diberikan kepada rasul-rasul Allah.” Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan-Nya. 



(this verse refers to a type of arrogant demand made by some influential opponents of the Prophet. Instead of evaluating the message itself, they argued that if revelation were real, it should have come to someone they considered more important or powerful—often a wealthy or high-status leader. Tafsir reports that similar attitudes appeared in several communities in the Qur’an’s narratives: people judged prophethood by social status rather than by the truth of the message.


The statement “God knows best where to place His message” is therefore interpreted as a response to that assumption. According to many exegetes, it means that prophethood is not something humans choose based on rank, wealth, or influence. God selects messengers based on wisdom and knowledge that humans may not fully perceive. Tafsir often highlights that many prophets historically were not the most powerful people in their societies.)


6.125

Barangsiapa dikehendaki Allah akan mendapat hidayah, Dia akan membukakan dadanya untuk Islam. Dan barangsiapa dikehendaki-Nya menjadi sesat, Dia jadikan dadanya sempit dan sesak, seakan-akan dia mendaki ke langit.


6.130

Tetapi mereka tertipu oleh kehidupan dunia dan mereka telah menjadi saksi atas diri mereka sendiri, bahwa mereka adalah orang-orang kafir.


6.131

Demikianlah  karena Tuhanmu tidak akan membinasakan suatu negeri secara zalim, sedang penduduknya dalam keadaan lengah 


6.132

Dan masing-masing orang ada tingkatannya,  dengan apa yang mereka kerjakan. Dan Tuhanmu tidak lengah terhadap apa yang mereka kerjakan.


(Verse 6:132 of the Qur'an states that everyone will have degrees (levels) according to what they have done, and that God is not unaware of what people do. In tafsir, this verse is usually understood as explaining how divine justice works in a detailed and individualized way.


the “degrees” mentioned in the verse refer to different ranks or levels people receive based on their actions, intentions, and choices. This applies both to those who do good and those who do wrong. People are not treated identically; rather, their outcomes correspond to what they actually did in life.)


6.137

Dan demikianlah berhala-berhala mereka menjadikan terasa indah bagi banyak orang-orang musyrik membunuh anak-anak mereka, untuk membinasakan mereka dan mengacaukan agama mereka sendiri. Dan kalau Allah menghendaki, niscaya mereka tidak akan mengerjakannya. Biarkanlah mereka bersama apa yang mereka ada-adakan.


(Verse 6:137 of the Qur'an discusses a disturbing practice that existed among some groups in pre-Islamic Arabia: the killing of children as part of certain religious or social customs.


The verse explains that this act was made to appear attractive or justified to them by their “partners” (often interpreted in tafsir as idols, false religious authorities, or misleading influences), leading many people to destroy their own families and confuse their religion.


the verse refers to practices like child sacrifice or killing children due to religious beliefs or extreme social pressures, including fear of poverty or ritual offerings linked to idol worship. In some traditions reported in tafsir, certain tribes believed that sacrificing children or dedicating them to idols would bring favor from their gods or protect their community.)


6.140

Sungguh rugi mereka yang membunuh anak-anaknya karena kebodohan tanpa pengetahuan, dan mengharamkan rezeki yang dikaruniakan Allah kepada mereka dengan semata-mata membuat-buat kebohongan terhadap Allah. Sungguh, mereka telah sesat dan tidak mendapat petunjuk.


6.141

janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan,


6.144

Siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah untuk menyesatkan orang-orang tanpa pengetahuan?


6.148-149

Orang-orang musyrik akan berkata, “Jika Allah menghendaki, tentu kami tidak akan mempersekutukan-Nya, begitu pula nenek moyang kami, dan kami tidak akan mengharamkan apa pun.” Demikian pula orang-orang sebelum mereka yang telah mendustakan sampai mereka merasakan azab Kami. Katakanlah, “Apakah kamu mempunyai pengetahuan yang dapat kamu kemukakan kepada kami? Yang kamu ikuti hanya persangkaan belaka, dan kamu hanya mengira.” Katakanlah, “Alasan yang kuat hanya pada Allah. Maka kalau Dia menghendaki, niscaya kamu semua mendapat petunjuk.”


6.150

Jangan engkau ikuti keinginan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat, dan mereka mempersekutukan Tuhan.


6.151-152

Katakanlah, “Marilah aku bacakan apa yang diharamkan Tuhan kepadamu. Jangan mempersekutukan-Nya dengan apa pun, berbuat baik kepada ibu bapak, janganlah membunuh anak-anakmu karena miskin. Kamilah yang memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka; janganlah kamu mendekati perbuatan yang keji, baik yang terlihat ataupun yang tersembunyi, janganlah kamu membunuh orang yang diharamkan Allah kecuali dengan alasan yang benar. Demikianlah Dia memerintahkan kepadamu agar kamu mengerti.


Dan janganlah kamu mendekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, sampai dia mencapai  dewasa. Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya. Apabila kamu berbicara, bicaralah sejujurnya, sekalipun dia kerabat dan penuhilah janji Allah. Demikianlah Dia memerintahkan kepadamu agar kamu ingat.”



6.159

Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka menjadi dalam golongan-golongan, sedikit pun bukan tanggung jawabmu atas mereka. Sesungguhnya urusan mereka kepada Allah. Kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat.


6.165

Dan Dialah yang menjadikan kamu sebagai khalifah-khalifah di bumi dan Dia mengangkat sebagian kamu di atas yang lain, untuk mengujimu atas yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu sangat cepat memberi hukuman dan sungguh, Dia Maha Pengampun, Maha Penyayang.


(The part stating that God raised some above others in ranks refers to differences in wealth, knowledge, strength, authority, and other capacities. According to exegetes, these differences are not signs of inherent superiority in moral worth, but part of a divine test. Someone wealthy is tested through gratitude and charity; someone poor is tested through patience and perseverance. A leader is tested through justice; a scholar through sincerity and truthfulness.

The expression “to test you in what He has given you” emphasizes accountability. Life is presented as an examination. Every blessing or limitation becomes a means through which one’s character is revealed.


The ending balances warning and hope. “Swift in punishment” underscores divine justice and accountability. “Forgiving, Merciful” emphasizes that repentance remains open. Many commentators explain that this pairing prevents despair on one side and arrogance on the other.)


7.33

Katakanlah, “Tuhanku hanya mengharamkan segala perbuatan keji yang terlihat dan yang tersembunyi, perbuatan dosa, perbuatan zalim tanpa alasan yang benar, dan  kamu mempersekutukan Allah dengan sesuatu, sedangkan Dia tidak menurunkan alasan untuk itu, dan kamu membicarakan tentang Allah apa yang tidak kamu ketahui.”


(the verse forbids speaking about God without knowledge. Many scholars consider this the most comprehensive warning in the verse. It includes inventing religious rulings, misrepresenting divine attributes, declaring something lawful or unlawful without evidence, or spreading theological claims without sound basis. Some scholars even argue that this final category is especially dangerous because it can lead to all the previous sins.)


7.37

Siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah atau yang mendustakan ayat-ayat-Nya?


7.42

Dan orang-orang yang beriman serta mengerjakan kebajikan, Kami tidak akan membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya. Mereka itulah penghuni surga; mereka kekal di dalamnya,


(The statement “We do not burden a soul beyond its capacity” is particularly significant in tafsir literature. Scholars explain that divine commands are always within human ability. Obligations in religion take into account human limits, whether physical, mental, or situational. This principle is used in Islamic jurisprudence to justify concessions, such as shortening prayers during travel or allowing alternatives when someone is unable to perform certain acts. Some commentators also interpret this clause as reassurance: the path to Paradise is demanding, but not impossible. God does not require perfection beyond human nature. What is required is sincere effort within one’s ability.)


7.51

orang-orang yang menjadikan agamanya sebagai permainan dan senda gurau, dan mereka telah tertipu oleh kehidupan dunia. 


7.55-56

Berdoalah kepada Tuhanmu dengan rendah hati dan suara yang lembut. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang yang berbuat kebaikan.


7.74

janganlah kamu membuat kerusakan di bumi.


7.85

Sempurnakanlah takaran dan timbangan, dan jangan kamu merugikan orang sedikit pun. Janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah dengan baik. 


7.86

Dan janganlah kamu duduk di setiap jalan dengan menakut-nakuti dan menghalang-halangi orang-orang yang beriman dari jalan Allah dan ingin membelokkannya. Ingatlah ketika kamu dahulunya sedikit, lalu Allah memperbanyak jumlah kamu. Dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berbuat kerusakan.

Popular posts from this blog

020220250839a

23022025

13022025