24022026 - q7

 5.87-88

Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengharamkan apa yang baik yang telah dihalalkan Allah kepadamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. 


Dan makanlah dari apa yang telah diberikan Allah kepadamu sebagai rezeki yang halal dan baik, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya.


5.89

(when someone swears by God, they are invoking God’s name as a witness to their statement or commitment. Because of that, breaking it is not treated as a casual mistake but as a moral and spiritual breach. When such an oath is broken, the Qur’an prescribes kaffarah (expiation). This is why the verse lists specific actions such as feeding or clothing the poor, freeing a slave, or fasting if one cannot afford the others.)


5.90-91

Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya minuman keras, berjudi, berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah, adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah itu agar kamu beruntung. Dengan minuman keras dan judi itu, setan hanyalah bermaksud menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu, dan menghalang-halangi kamu dari mengingat Allah dan melaksanakan salat, maka tidakkah kamu mau berhenti?


5.93

Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.


5.100

Katakanlah, “Tidaklah sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya keburukan itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat, agar kamu beruntung.”


5.101-103

Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menanyakan tentang sesuatu, jika diterangkan kepada kalian, menyusahkan kalian.


Jika kamu menanyakannya ketika Al-Qur'an sedang diturunkan, akan diterangkan kepadamu. 


Allah telah memaafkan tentang hal itu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyantun.


Sesungguhnya sebelum kamu telah ada segolongan manusia yang menanyakan hal-hal serupa itu, kemudian mereka menjadi kafir.


Allah tidak pernah mensyariatkan adanya Bahirah, Sa'ibah, Wasilah dan haam. Tetapi orang-orang kafir membuat-buat kedustaan terhadap Allah, dan kebanyakan mereka tidak mengerti.


5.105

Wahai orang-orang yang beriman! Jagalah dirimu; orang yang sesat itu tidak akan membahayakanmu apabila kamu telah mendapat petunjuk. Hanya kepada Allah kamu semua akan kembali, kemudian Dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.


5.106-108

Wahai orang-orang yang beriman! 


Apabila salah seorang kamu menghadapi kematian, sedang dia akan berwasiat, maka hendaklah disaksikan oleh dua orang yang adil di antara kamu, atau dua orang yang berlainan dengan kamu. 


Jika kamu dalam perjalanan di bumi lalu kamu ditimpa bahaya kematian, hendaklah kamu tahan kedua saksi itu setelah salat, agar keduanya bersumpah dengan nama Allah jika kamu ragu-ragu, “Demi Allah kami tidak akan mengambil keuntungan dengan sumpah ini, walaupun dia karib kerabat, dan kami tidak menyembunyikan kesaksian Allah; sesungguhnya jika demikian tentu kami termasuk orang-orang yang berdosa.”


Jika terbukti kedua saksi itu berbuat dosa, maka dua orang yang lain menggantikan kedudukannya, yaitu di antara ahli waris yang berhak dan lebih dekat kepada orang yang mati, lalu keduanya bersumpah dengan nama Allah, “Sungguh, kesaksian kami lebih layak diterima daripada kesaksian kedua saksi itu, dan kami tidak melanggar batas. Sesungguhnya jika kami berbuat demikian tentu kami termasuk orang-orang zalim.”


Dengan cara itu mereka lebih patut memberikan kesaksiannya menurut yang sebenarnya, dan mereka merasa takut akan dikembalikan sumpahnya setelah mereka bersumpah.


(Verses 5:106–108 of the Qur'an discuss a very specific legal situation: witnesses and testimony about a will when someone dies during travel. Classical tafsir explains that these verses were revealed to deal with practical problems that could arise far from home, where normal legal witnesses might not be available.


Commentators connect the passage to an incident reported in early Islamic sources. A Muslim traveler died on a journey and entrusted his belongings to companions who were not Muslims at the time. When they returned, part of the property was missing, and a dispute arose. These verses laid out a procedure to handle such cases fairly.


First, the Qur’an establishes how witnesses to a will should be chosen. Ideally they are trustworthy Muslims. But the verse explicitly allows witnesses from outside the Muslim community if the death occurs while traveling and no suitable Muslim witnesses are present.


Second, if suspicion later arises about the witnesses’ honesty, the Qur’an instructs that they should swear an oath after prayer that they have not altered the will or taken anything.


Third, if evidence later shows the witnesses may have been dishonest, the procedure allows two other people from the deceased’s relatives to step forward and swear a counter-oath asserting the claim. This creates a layered system intended to discourage lying.


Many tafsir works also note that this passage shows how the Qur’an addressed real social situations in early Muslim society, where trade journeys were common and people sometimes died far from their families.)


(It can seem surprising at first: the Qur'an repeatedly says worldly life (dunyā) is temporary and not the ultimate goal, yet it goes into detailed rules about property, debts, inheritance, contracts, and testimony. In tafsir, scholars usually explain that these two ideas are not contradictory. The Qur’an treats worldly matters as morally significant even if they are not the final purpose of life. the dunya is not the ultimate goal, but how people behave within it matters deeply. Handling wealth responsibly, honoring agreements, and protecting others’ property are considered part of righteousness, not a distraction from it. In fact, the Qur’an often presents ethical conduct in worldly dealings as evidence of genuine faith.)


6.21

Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan suatu kebohongan terhadap Allah, atau yang mendustakan ayat-ayat-Nya? Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu tidak beruntung.


6.25-32

Dan di antara mereka ada yang mendengarkan bacaanmu, dan Kami telah menjadikan hati mereka tertutup memahaminya, dan telinganya tersumbat. 


Dan kalaupun mereka melihat segala tanda, mereka tetap tidak mau beriman kepadanya. Sehingga apabila mereka datang kepadamu untuk membantahmu, orang-orang kafir itu berkata, “Ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang terdahulu.”


Dan mereka melarang mendengarkan dan mereka sendiri menjauhkan diri daripadanya, dan mereka hanyalah membinasakan diri mereka sendiri, sedang mereka tidak menyadari.


Dan seandainya engkau melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka, mereka berkata, “Seandainya kami dikembalikan, tentu kami tidak akan mendustakan ayat-ayat Tuhan kami, serta menjadi orang-orang yang beriman.”


Tetapi bagi mereka telah nyata kejahatan yang mereka sembunyikan dahulu. Seandainya mereka dikembalikan ke dunia, tentu mereka akan mengulang kembali apa yang telah dilarang mengerjakannya. Mereka itu sungguh pendusta.


Dan tentu mereka akan mengatakan, “Hidup hanyalah di dunia ini, dan kita tidak akan dibangkitkan.”


Dan seandainya engkau melihat ketika mereka dihadapkan kepada Tuhannya. Dia berfirman, “Bukankah ini benar?” Mereka menjawab, “Sungguh benar, demi Tuhan kami.” Dia berfirman, “Rasakanlah azab ini, karena dahulu kamu mengingkarinya.”


Sungguh rugi orang-orang yang mendustakan pertemuan dengan Allah; sehingga apabila Kiamat datang kepada mereka secara tiba-tiba, mereka berkata, “Alangkah besarnya penyesalan kami terhadap kelalaian kami tentang Kiamat itu,” sambil mereka memikul dosa-dosa di atas punggungnya. Alangkah buruknya apa yang mereka pikul itu.


Dan kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan senda gurau. Sedangkan negeri akhirat itu, sungguh lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Tidakkah kamu mengerti?



(When the verse describes worldly life as “play and amusement,” scholars clarify that it refers to a life pursued only for entertainment, pride, and competition, without awareness of God or moral responsibility. If someone treats the world as the ultimate goal, then from the Qur’anic perspective it becomes something shallow and fleeting.


At the same time, commentators stress that the verse does not mean daily activities—work, family, trade, learning—are meaningless. The idea is that the dunya becomes “play” only when it distracts from the purpose of life, but it becomes meaningful when used for good deeds and preparation for the Hereafter.


The final part of the verse emphasizes understanding: it asks whether people will reflect. Tafsir writers often say this is an invitation to re-evaluate priorities—to recognize that the afterlife is lasting, while worldly experiences pass quickly.)


6.33-35

Sungguh, Kami mengetahui bahwa apa yang mereka katakan itu menyedihkan hatimu, karena sebenarnya mereka bukan mendustakan engkau, tetapi orang yang zalim itu mengingkari ayat-ayat Allah.


Dan sesungguhnya rasul-rasul sebelum engkau pun telah didustakan, tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan terhadap mereka, sampai datang pertolongan Kami kepada mereka. Dan tidak ada yang dapat mengubah kalimat-kalimat Allah. Dan sungguh, telah datang kepadamu sebagian dari berita rasul-rasul itu.


Dan jika keberpalingan mereka terasa berat bagimu, maka sekiranya engkau dapat membuat lubang di bumi atau tangga ke langit lalu engkau dapat mendatangkan mukjizat kepada mereka. 


Dan sekiranya Allah menghendaki, tentu Dia jadikan mereka semua mengikuti petunjuk, sebab itu janganlah sekali-kali engkau termasuk orang-orang yang bodoh.


(The Prophet deeply wanted people to believe and worried about their rejection. The imagery of tunneling into the earth or ascending into the sky is interpreted by scholars as a way of saying: even if you could produce the most extraordinary miracle imaginable, belief ultimately depends on whether people are willing to accept guidance.


Exegetes also emphasize another message: guidance is not forced. According to many tafsir works, the verse clarifies that faith cannot simply be produced by dramatic signs. Some people ask for miracles, but even when signs appear, they may still refuse to believe. Because of this, the Qur’an shifts the focus from satisfying demands for spectacle to delivering the message faithfully.)



6.54

Dan apabila orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami datang kepadamu, maka katakanlah, “Salamun ‘alaikum (selamat sejahtera untuk kamu).” 


Tuhanmu telah menetapkan sifat kasih sayang pada diri-Nya, barang-siapa berbuat kejahatan di antara kamu karena kebodohan, kemudian dia bertobat setelah itu dan memperbaiki diri, maka Dia Maha Pengampun, Maha Penyayang.


6.60

lalu Dia memberitahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.


6.65

Katakanlah, “Dialah yang berkuasa mengirimkan azab kepadamu, dari atas atau dari bawah kakimu atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan dan merasakan kepada sebagian kamu keganasan sebagian yang lain.” 


6.68

Apabila engkau melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka hingga mereka beralih ke pembicaraan lain. Dan jika setan benar-benar menjadikan engkau lupa, setelah ingat kembali janganlah engkau duduk bersama orang-orang yang zalim.


6.69

Orang-orang yang bertakwa tidak ada tanggung jawab sedikit pun atas mereka; tetapi mengingatkan agar mereka bertakwa.


(those who are mindful of God are not held responsible for the wrongdoing of those mockers, but reminding them may still be beneficial.)


6.70

Tinggalkanlah orang-orang yang menjadikan agamanya sebagai permainan dan senda gurau, dan mereka telah tertipu oleh kehidupan dunia. Peringatkanlah dengan Al-Qur'an agar setiap orang tidak terjerumus karena perbuatannya sendiri.


6.91

Siapakah yang menurunkan Kitab yang dibawa Musa sebagai cahaya dan petunjuk bagi manusia, kamu jadikan Kitab itu lembaran-lembaran kertas yang bercerai-berai, kamu memperlihatkan dan banyak yang kamu sembunyikan, padahal telah diajarkan kepadamu apa yang tidak diketahui, baik olehmu maupun oleh nenek moyangmu.


6.92

Orang-orang yang beriman kepada akhirat tentu beriman kepadanya, dan mereka selalu memelihara salatnya.


6.93

Siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan dusta terhadap Allah atau yang berkata, “Telah diwahyukan kepadaku,” padahal tidak diwahyukan sesuatu pun kepadanya.


Pada hari ini kamu akan dibalas dengan azab yang sangat menghinakan, karena kamu mengatakan terhadap Allah  yang tidak benar dan kamu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya.


6.106-110

berpalinglah dari orang-orang musyrik. Dan sekiranya Allah menghendaki, niscaya mereka tidak mempersekutukan. Dan Kami tidak menjadikan engkau penjaga mereka; dan engkau bukan pula pemelihara mereka.


Dan janganlah kamu memaki sesembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa dasar pengetahuan. Demikianlah, Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan tempat kembali mereka, lalu Dia akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan.


Dan mereka bersumpah dengan nama Allah dengan segala kesungguhan, bahwa jika datang suatu mukjizat kepada mereka, pastilah mereka akan beriman kepadanya. Katakanlah, “Mukjizat-mukjizat itu hanya ada pada sisi Allah.” Dan tahukah kamu, bahwa apabila mukjizat datang, mereka tidak juga akan beriman.


Dan Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti pertama kali mereka tidak beriman kepadanya, dan Kami biarkan mereka bingung dalam kesesatan.

Popular posts from this blog

020220250839a

23022025

13022025