22022026 - q5

 4.24

Dan perempuan yang bersuami, kecuali hamba sahaya perempuan yang kamu miliki sebagai ketetapan Allah atas kamu. 


Dan dihalalkan bagimu selain yang demikian itu jika kamu berusaha dengan hartamu untuk menikahinya bukan untuk berzina. 


Maka karena kenikmatan yang telah kamu dapatkan dari mereka, berikanlah maskawinnya kepada mereka sebagai suatu kewajiban. Tetapi tidak mengapa jika ternyata di antara kamu telah saling merelakannya, setelah ditetapkan. 


Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana.


4.29

Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dalam perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka di antara kamu. 


Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sungguh, Allah Maha Penyayang kepadamu.


4.32

Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain. bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi perempuan ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sungguh, Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.


(Commentators say the verse teaches that God distributes abilities, roles, and provisions differently among people. Instead of envying what others have been given, a believer should focus on what they themselves can earn or achieve and ask God for additional blessing. The main message emphasized by commentators is that envy over differences in status, wealth, or roles harms social harmony. Instead, believers are encouraged to recognize that provision and opportunities vary by God’s wisdom, focus on their own actions, and ask God directly for more good rather than resenting others.)


4.34

Laki-laki itu pelindung bagi perempuan, karena Allah telah melebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain, dan karena mereka telah memberikan nafkah dari hartanya. 


Maka perempuan-perempuan yang saleh adalah mereka yang taat dan menjaga diri ketika tidak ada, karena Allah telah menjaga.


(“guarding in the absence” refers to protecting the trust of the marriage when the husband is not present. Tafsir works explain this in several aspects: maintaining chastity, protecting the household, and safeguarding the husband’s rights and property entrusted to her. It is essentially about trust and loyalty within the marriage.)


4.34

Perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan akan nusyuz, hendaklah kamu beri nasihat kepada mereka, tinggalkanlah mereka di tempat tidur, dan pukullah mereka. Tetapi jika mereka menaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari alasan untuk menyusahkannya.


(The word nushūz comes from the Arabic root ن-ش-ز (n-sh-z). In classical Arabic, this root originally refers to rising, elevating, or standing up from a place—for example, land that rises higher than the surrounding ground. From that literal meaning, the word developed a figurative sense: rising up against someone, meaning rebellion, defiance, or breaking harmony. A spouse “rising against” the marital order or refusing the obligations that sustain the relationship. In Islamic jurisprudence and tafsir, nushūz is usually defined as a serious violation of marital duties that threatens the marriage itself.)


4.35

Dan jika kamu khawatir terjadi persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang juru damai dari keluarga laki-laki dan seorang juru damai dari keluarga perempuan. Jika keduanya bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami-istri itu.


4.36

Dan berbuat-baiklah kepada kedua orang tua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya yang kamu miliki. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri


(The verse emphasizes kindness and good conduct toward others.


The first group mentioned is parents.


After parents, the verse expands outward to relatives, orphans, and the poor. Commentators say this reflects a widening circle of social responsibility: first family, then vulnerable members of society. Tafsir often highlights that caring for orphans and helping the poor were major themes in early Islamic teaching because these groups were especially at risk in society.


The verse then mentions neighbors—both the close neighbor and the more distant one.


It also mentions the companion at one’s side. Tafsir offers several interpretations of this phrase. Some scholars say it refers to a friend or companion in daily life, others say it can include a travel companion, and some extend it to a spouse. The general idea in tafsir is someone who shares close interaction with you and therefore deserves respectful treatment.


written in Arabic as الصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ (aṣ-ṣāḥibi bil-janb). It is usually translated as “the companion at your side.”


The first word ṣāḥib (صاحب) comes from the Arabic root ص-ح-ب (ṣ-ḥ-b). The root conveys the idea of accompanying, keeping company, or being closely associated with someone. Linguistically, ṣāḥib refers to someone who stays with you, associates with you, or shares time and circumstances with you.


The second part bil-janb (بالجنب) contains janb (جنب), which literally means side, flank, or beside someone. In Arabic usage it can refer both to physical closeness (someone next to you) and figurative closeness (someone connected to you in life or situation).


The verse also refers to travelers and those “whom your right hands possess,” meaning people under one’s authority within the social system)



4.37

orang yang kikir, dan menyuruh orang lain berbuat kikir, dan menyembunyikan karunia yang telah diberikan Allah kepadanya.


4.43

Wahai orang yang beriman! Janganlah kamu mendekati salat ketika kamu dalam keadaan mabuk, sampai kamu sadar apa yang kamu ucapkan, dan jangan pula dalam keadaan junub kecuali sekedar melewati jalan saja, sebelum kamu mandi.


(The word junub (جُنُب) comes from the Arabic root ج-ن-ب (j-n-b). The root relates to the idea of being at the side, being distant, or being set apart from something. Words derived from the same root include janb (side) and expressions meaning to avoid or keep away from something. Because of that linguistic origin, the term junub literally suggests someone who is kept away or temporarily apart from certain acts of worship until purification is completed.)


4.43

Adapun jika kamu sakit atau sedang dalam perjalanan atau sehabis buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, sedangkan kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan debu yang baik; usaplah wajahmu dan tanganmu dengan  itu. Sungguh, Allah Maha Pemaaf, Maha Pengampun.


4.49-50

Tidakkah engkau memperhatikan orang-orang yang menganggap dirinya suci? Sebenarnya Allah menyucikan siapa yang Dia kehendaki dan mereka tidak dizalimi sedikit pun. Perhatikanlah, betapa mereka mengada-adakan dusta terhadap Allah! Dan cukuplah perbuatan itu menjadi dosa yang nyata.


(Some groups believed they were already spiritually superior or guaranteed salvation because of lineage, religious identity, or claims about themselves. The Qur’an challenges that idea by saying people should not declare themselves pure.


Real purification—moral, spiritual, and religious acceptance—comes from God alone. Purity is not something people can claim by status or by praising themselves; it depends on God’s judgment and a person’s genuine faith and actions.)



4.57

Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, kelak akan Kami masukkan ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Di sana mereka mempunyai pasangan-pasangan yang suci, dan Kami masukkan mereka ke tempat yang teduh lagi nyaman.


4.58

Sungguh, Allah menyuruhmu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaknya kamu menetapkannya dengan adil. Sungguh, Allah sebaik-baik yang memberi pengajaran kepadamu.


4.59

Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul dan Ulil Amri di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul, jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama dan lebih baik akibatnya.


(Ulī (أولي) is the plural form of a word meaning people who possess something or those endowed with a certain quality or authority. Amr (أمر) comes from the Arabic root أ-م-ر (ʾ-m-r). This root carries meanings related to command, authority, affair, or governance. Linguistically, therefore, ulil amri literally means “those who possess authority over affairs” or “those responsible for leadership and decision-making.”)


4.60

Tidakkah engkau memperhatikan orang-orang yang mengaku bahwa mereka telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelummu? Tetapi mereka masih menginginkan ketetapan hukum kepada thaghut, padahal mereka telah diperintahkan untuk mengingkari thaghut itu. Dan setan bermaksud menyesatkan mereka kesesatan yang sejauh-jauhnya.


Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Marilah kepada apa yang telah diturunkan Allah dan  kepada Rasul,” engkau melihat orang munafik menghalangi dengan keras darimu.


Maka bagaimana halnya apabila musibah menimpa mereka  disebabkan perbuatan tangannya sendiri, kemudian mereka datang kepadamu  sambil bersumpah, “Demi Allah, kami sekali-kali tidak menghendaki selain kebaikan dan kedamaian.”


Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang ada di dalam hatinya. Karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka nasihat, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang membekas pada jiwanya.


4.72

Dan sesungguhnya di antara kamu pasti ada orang yang sangat enggan. Lalu jika kamu ditimpa musibah dia berkata, “Sungguh, Allah telah memberikan nikmat kepadaku karena aku tidak ikut berperang bersama mereka.”


4.75-76

Dan mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan orang yang lemah, baik laki-laki, perempuan maupun anak-anak yang berdoa, “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini yang penduduknya zalim. Berilah kami pelindung dari sisi-Mu, dan berilah kami penolong dari sisi-Mu.” Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, maka perangilah kawan-kawan setan itu, (karena) sesungguhnya tipu daya setan itu lemah.


4.80

Barangsiapa menaati Rasul, maka sesungguhnya dia telah menaati Allah.


4.81

Dan mereka mengatakan, “taat.” Tetapi, apabila mereka telah pergi dari sisimu, sebagian dari mereka mengatur siasat di malam hari lain dari yang telah mereka katakan tadi. Allah mencatat siasat yang mereka atur di malam hari itu, maka berpalinglah dari mereka dan bertawakallah kepada Allah. Cukuplah Allah yang menjadi pelindung.


4.83

Dan apabila sampai kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka menyiarkannya. apabila mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya mengetahuinya dari mereka.


(This verse discusses how the community should deal with sensitive information, especially news related to security, fear, or public affairs.


The verse addresses a behavior that appeared in the early Muslim community: when people heard news—particularly about military situations, danger, or public security—they would quickly spread it among others without verifying it or without considering the consequences.


The verse criticizes that habit and says that instead of spreading such information immediately, people should refer it to the Messenger and to those with authority among them. In tafsir, this is understood as a call for responsible communication and proper leadership oversight, especially in matters affecting the safety and stability of society.


Commentators often connect the phrase “those who are able to draw correct conclusions among them” with people who have knowledge, judgment, or responsibility in public matters. These could include leaders, administrators, or knowledgeable individuals who can evaluate information properly before it becomes public.


In the explanations given by early scholars, the verse teaches that not every piece of news should be broadcast immediately. Information related to security, conflict, or public affairs should be handled carefully and evaluated by responsible authorities who understand its implications.


Many modern interpreters note that the ethical principle described in this verse is very relevant beyond its original context. It emphasizes verifying information, avoiding spreading rumors, and recognizing the role of knowledgeable leadership in handling sensitive matters.)



4.84

Maka berperanglah engkau di jalan Allah, engkau tidaklah dibebani melainkan atas dirimu sendiri. Kobarkanlah orang-orang beriman. Mudah-mudahan Allah menolak serangan orang-orang yang kafir itu. Allah sangat besar kekuatan dan sangat keras siksaan.


4.86

Dan apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah dengannya. Sungguh, Allah memperhitungkan segala sesuatu.


4.88-91

Maka mengapa kamu menjadi dua golongan dalam orang-orang munafik, padahal Allah telah mengembalikan mereka, disebabkan usaha mereka sendiri? Apakah kamu bermaksud memberi petunjuk kepada orang yang telah dibiarkan sesat oleh Allah? Barangsiapa dibiarkan sesat oleh Allah, kamu tidak akan mendapatkan jalan baginya.


Mereka ingin agar kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, sehingga kamu menjadi sama. Janganlah kamu jadikan dari antara mereka sebagai teman-teman, sebelum mereka berpindah pada jalan Allah. 


Apabila mereka berpaling, maka tawanlah mereka dan bunuhlah mereka di mana pun mereka kamu temukan, dan janganlah kamu jadikan seorang pun di antara mereka sebagai teman setia dan penolong, kecuali orang-orang yang meminta perlindungan kepada suatu kaum, yang antara kamu dan kaum itu telah ada perjanjian atau orang yang datang kepadamu sedang hati mereka merasa keberatan untuk memerangi kamu atau memerangi kaumnya.


Sekiranya Allah menghendaki, niscaya diberikan-Nya kekuasaan kepada mereka menghadapi kamu, maka pastilah mereka memerangimu. Tetapi jika mereka membiarkan kamu, dan tidak memerangimu serta menawarkan perdamaian kepadamu, maka tidak menjadikan, Allah, bagi kalian, kepada mereka, jalan.


Kelak akan kamu dapati yang lain, yang menginginkan agar mereka hidup aman bersamamu dan aman bersama kaumnya. Setiap kali mereka diajak kembali kepada fitnah, mereka pun terjun ke dalamnya.


Karena itu jika mereka tidak membiarkan kamu dan tidak mau menawarkan perdamaian kepadamu, serta tidak menahan tangan mereka, maka tawanlah mereka dan bunuhlah mereka di mana saja kamu temui, dan merekalah 

yang kami jadikan kepada kalian, untuk mereka, alasan yang nyata.


4.92-94

Dan tidak patut bagi seorang yang beriman membunuh seorang yang beriman, kecuali karena tersalah.


Barangsiapa membunuh seorang yang beriman karena tersalah,  dia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman serta tebusan yang diserahkan kepada keluarganya, kecuali jika mereka membebaskan pembayaran. 


Jika dia dari kaum yang memusuhimu, padahal dia orang beriman, maka memerdekakan hamba sahaya yang beriman. 


Dan jika dia dari kaum yang ada perjanjian antara mereka dengan kamu, maka membayar tebusan yang diserahkan kepada keluarganya  serta memerdekakan hamba sahaya yang beriman. 


Barangsiapa tidak mendapatkan,, maka hendaklah dia berpuasa dua bulan berturut-turut sebagai tobat kepada Allah. Dan Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana.


Dan barangsiapa membunuh seorang yang beriman dengan sengaja, maka balasannya ialah neraka Jahanam, dia kekal di dalamnya. Allah murka kepadanya, dan melaknatnya serta menyediakan azab yang besar baginya.


Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu pergi di jalan Allah, maka telitilah dan janganlah kamu mengatakan kepada orang yang mengucapkan ”salam” kepadamu, ”Kamu bukan seorang yang beriman,”dengan maksud mencari harta benda kehidupan dunia, padahal di sisi Allah ada harta yang banyak. Begitu jugalah keadaan kamu dahulu, lalu Allah memberikan nikmat-Nya kepadamu, maka telitilah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.



4.95

Tidaklah sama antara orang beriman yang duduk tanpa mempunyai uzur dengan orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwanya. Allah melebihkan derajat orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk. Kepada masing-masing, Allah menjanjikan yang baik dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar,


4.97-101

Sesungguhnya orang-orang yang dicabut nyawanya oleh malaikat dalam keadaan menzalimi sendiri, mereka bertanya, “Bagaimana kamu ini?” Mereka menjawab, “Kami orang-orang yang tertindas di bumi.” Mereka  bertanya, “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?” Maka orang-orang itu tempatnya di neraka Jahanam, dan itu seburuk-buruk tempat kembali. 


kecuali mereka yang tertindas baik laki-laki atau perempuan dan anak-anak yang tidak berdaya dan tidak mengetahui jalan. maka mereka itu, mudah-mudahan Allah memaafkannya. Allah Maha Pemaaf, Maha Pengampun.


Dan barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka akan mendapatkan di bumi ini tempat hijrah yang luas dan yang banyak. 


Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya, maka sungguh, pahalanya telah ditetapkan di sisi Allah. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.


Dan apabila kamu bepergian di bumi, maka tidaklah berdosa kamu meng-qasar salat, jika kamu takut diserang orang kafir. Sesungguhnya orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagimu.


4.103

Selanjutnya, apabila kamu telah menyelesaikan salat, ingatlah Allah ketika kamu berdiri, pada waktu duduk dan ketika berbaring.


4.104

Dan janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka. Jika kamu menderita kesakitan, maka ketahuilah mereka pun menderita kesakitan, sebagaimana kamu rasakan, sedang kamu masih dapat mengharapkan dari Allah apa yang tidak dapat mereka harapkan. Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana.


4.105

Sungguh, Kami telah menurunkan Kitab kepadamu, membawa kebenaran, agar engkau mengadili antara manusia dengan apa yang telah diajarkan Allah kepadamu


4.114

Tidak ada kebaikan dari banyak pembicaraan rahasia mereka, kecuali pembicaraan rahasia dari orang yang menyuruh bersedekah, atau berbuat kebaikan, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Barangsiapa berbuat demikian karena mencari keridaan Allah, maka kelak Kami akan memberinya pahala yang besar.


4.117-119

Yang mereka sembah selain Allah itu tidak lain hanyalah berhala dan mereka tidak lain hanyalah menyembah setan yang durhaka. yang dilaknati Allah, dan itu mengatakan, “Aku pasti akan mengambil bagian tertentu dari hamba-hamba-Mu. dan pasti kusesatkan mereka, dan akan kubangkitkan angan-angan kosong pada mereka dan akan kusuruh mereka memotong telinga-telinga binatang ternak,  dan akan aku suruh mereka mengubah ciptaan Allah.” Barangsiapa menjadikan setan sebagai pelindung selain Allah, maka sungguh, dia menderita kerugian yang nyata.


4.128-130

Dan jika seorang perempuan khawatir suaminya akan nusyuz atau bersikap tidak acuh, maka keduanya dapat mengadakan perdamaian yang sebenarnya, dan perdamaian itu lebih baik walaupun manusia itu menurut tabiatnya kikir. Dan jika kamu memperbaiki dan memelihara dirimu, maka sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.


Dan kamu tidak akan dapat berlaku adil di antara istri-istri, walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri, maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.


Dan jika keduanya bercerai, maka Allah akan memberi kecukupan kepada masing-masing dari karunia-Nya.


4.135

Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, walaupun terhadap dirimu sendiri atau terhadap ibu bapak dan kaum kerabatmu. Jika dia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatan. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutarbalikkan atau enggan menjadi saksi, maka ketahuilah Allah Mahateliti terhadap segala apa yang kamu kerjakan.


4.138

Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih. orang-orang yang menjadikan orang-orang kafir sebagai pemimpin dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Ketahuilah bahwa semua kekuatan itu milik Allah.


4.140

Dan sungguh, Allah telah menurunkan bagimu di dalam Kitab bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan, maka janganlah kamu duduk bersama mereka, sebelum mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena kalian tentulah serupa dengan mereka.


4.144

Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan orang-orang kafir sebagai pemimpin selain dari orang-orang mukmin. Apakah kamu ingin memberi alasan yang jelas bagi Allah?


4.147

Allah tidak akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman. Dan Allah Maha Mensyukuri, Maha Mengetahui.

Popular posts from this blog

020220250839a

23022025

13022025