22012026
Ia hanya seorang nelayan. Ia lahir dan besar di Kota Sorong. Setelah menikah, ia pindah ke kampung istrinya di Friwen, Walgeo Selatan, Raja Ampat, lebih kurang empat jam perjalanan laut dari Sorong.
Di Friwen, ikan mudah didapat. Ikan tenggiri jadi incarannya. Umpannya ikan-ikan kecil yang bisa didapat hanya dengan menyerok di bawah jembatan pintu masuk kampung. Ikan-ikan berkumpul di bawah jembatan, lengkap dengan terumbu karang yang bisa dilihat mata tanpa perlu menyelam. Begitu jernihnya air laut di depan kampung itu.
Setelah enam tahun di sana, suasana berubah. Ia mulai kesulitan mencari ikan karena keindahan alam Friwen mengundang puluhan ribu wisatawan setiap tahunnya. Ikan tenggiri, cakalang, dan ikan lain yang jadi langganan nelayan pun hilang. "Mereka kan buang jangkar di laut. Terumbu karang rusak. Ikan pergi. Jadi, kalau dulu cari ikan dekat-dekat kampung, setelah ramai itu kami nelayan harus pergi jauh dari pulau ke tengah laut sana," katanya, Kamis (22/1/2026).
Dalam dua tahun terakhir, tata kelola kapal wisata yang masuk ke Raja Ampat berubah. Pemerintah daerah bersama Konservasi Indonesia meluncurkan Raja Ampat Mooring System (RAMS), sistem pelampung tambat. Fasilitas tambat labuh itu diinisiasi Konservasi Indonesia dan Global Fund for Coral Reefs.
Dipasanglah mooring buoy, seperti pelampung besar, yang mampu menampung dua sampai tiga kapal dengan berat total 750 ton. Setelah mooring buoy dipasang, pemerintah mencari orang yang bersedia menjaga mooring. Petugas kepil namanya. Mereka bertugas mengaitkan tali ke mooring yang mengapung.
Ia ditawari pekerjaan itu, namun menolak. "Saya bilang dahulukan anak-anak muda asli kampung saja dulu. Saya kan bukan asli sini. Tapi, setelah ditawarkan, mereka menolak. Karena tidak ada yang mau, ya sudah, saya saja. Akhirnya kami dua orang dari Friwen ini jadi petugas kepil," katanya.
****
Ia mendapatkan pesan singkat dari Badan Layanan Umum Daerah UPTD Kawasan Konservasi Perairan Raja Ampat. Ada kapal merapat ke mooring di dekat kampungnya. Ia pun melepas tali pancing, lalu mendekat ke pelampung, menunggu kapal masuk.
Kapal pun tiba. Tali dilempar ke arahnya. Diraihnya tali itu, lalu diikatkan ke mooring buoy. Setelah itu, ia naik ke kapal dan memeriksa jumlah awak kapal dan turis yang datang, memastikan mereka sudah memiliki kartu Tarif Layanan Pemeliharaan Jasa Lingkungan. Setelah itu, ia baru kembali ke sampan kayunya.
Ia biasanya menunggu di rumah, menunggu kapal meninggalkan mooring buoy untuk melepaskan tali.
****
Siang itu, November 2024, sebuah kapal masuk dengan sembilan turis di dalamnya. Mereka menyelam seperti biasa. Tidak ada tanda badai atau hal lainnya. "Mereka menyelam bergantian. Ada satu orang yang menyelam terakhir ini, belakangan. Setelah ditunggu-tunggu, semua orang panik," katanya.
Setiap penyelam menggunakan surface marker buoy (SMB) untuk menjadi penanda wilayah mereka menyelam. Saat itu, SMB milik si penyelam terakhir hanyut terbawa ombak.
Ia menggunakan insting nelayannya untuk menyelamatkan penyelam yang hanyut tersebut.
"Jauh sekali dia hanyut. Saya dapat dia itu sekitar dua puluh kilometer dari tempat menyelam," ujarnya. Kejadian serupa berulang setidaknya tiga kali di tahun yang sama.
Pada 2025, ia pernah menyelamatkan seorang turis asing yang terpisah dari rombongan menyelam. Saat diselamatkan dengan kapal kecil miliknya, si turis menolak naik ke kapal. "Saya juga tidak tahu kenapa dia tidak mau. Mungkin karena lihat kapal kecil, jadi takut tenggelam. Ya sudah, saya lempar tali dan saya tarik dia sampai ke dermaga. Saya tunggu sampai petugas datang," jelasnya. Peristiwa itu bahkan terjadi pada malam hari.
Tak hanya menolong orang yang hanyut, kapal hanyut pun ia tolong. "Sudah tiga kali kapal mati mesin di sekitar sini. Hanyut terbawa ombak, terombang ambing di lautan. Kami tarik atau diperbaiki di lokasi," katanya. Ia bisa merespons kejadian lebih cepat karena hidupnya memang di laut.
Ia memilih menjadi petugas kepil bukan karena upahnya. Ia mengaku bahkan tidak tergiur upahnya -- lebih kurang Rp 3 juta per bulan. Jumlah yang sama bisa ia dapatkan dalam sekali melaut jika sedang panen ikan. "Saya kadang masih cari ikan. Apalagi, sejak mooring buoy dipasang, ikan balik lagi," katanya. Alasan ia menerima pekerjaan itu hanya karena ia merasa harus berbuat sesuatu untuk kampungnya, untuk alamnya. "Selagi kitong masih punya waktu, mari jaga sama-sama. Ini piring makan untuk anak cucu kita," katanya.