お金

E (50) beristirahat sambil membenahi bagian dalam bajaj miliknya tidak jauh dari rel kereta api di bawah jembatan layang di Pekojan, Tambora, Jakarta Barat. 

Hingga pukul 14.30 WIB, lebih dari sepuluh penumpang telah dia antar ke tempat tujuan.

"Kalau lagi ramai bisa dapat Rp 150.000 per hari. Kalau lagi hujan paling dapat Rp 80.000 sehari setelah dikurangi bahan bakar Rp 50.000," ujar lelaki asal Kali Deres yang baru setahun mengemudi bajaj di kawasan itu.

Erwin mengaku jarang pulang. Dia menyewa rumah kontrakan seharga Rp 300.000 per bulan tidak jauh dari tempat itu. "Kalau tidak tidur di kontrakan, biasanya tidur di bajaj," ujarnya.

***

Sejak 1998, C (50) mengontrak salah satu rumah yang bersisian langsung dengan pagar rel di sisi utara Stasiun Angke. Untuk sewa rumah, dia harus mengeluarkan biaya Rp 520.000 per bulan, ditambah listrik Rp 100.000, belum termasuk biaya mandi, cuci, dan kakus.

Sehari-hari, ia memanfaatkan ruang belakang huniannya yang selebar 2,5 meter x 2 meter tersebut untuk membuka warung makan kecil, dari total luas rumah 12 meter x 5 meter yang dia tempati bersama istri dan dua anaknya. Konsumennya merupakan warga sekitar.

"Yang saya rasakan lancar-lancar selalu. Rezeki selalu ada. Jadi saya syukuri saja. Namanya dagang, ada sepi, ada ramai," katanya.

***

AG (40) menjadi dosen Politeknik Negeri Media Kreatif sejak Januari 2021. Kemudian, Juni 2024, ia diangkat menjadi dosen dengan status pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK). Dengan status itu, ia memperoleh gaji pokok Rp 4,4 juta dan uang makan Rp 500.000 hingga Rp 700.000 per bulan.

Di awal bulan, ia membayar Rp 1,7 juta untuk sewa kontrakan di Jagakarsa, Jakarta Selatan.

Untuk mencari penghasilan tambahan, AG mengajar di sekolah vokasi Universitas Indonesia dan Universitas Terbuka. Dari situ, ia mendapat tambahan penghasilan Rp 1 juta per bulan. Namun, itu tak rutin karena tergantung dari masa kuliah mahasiswa.

AG juga berusaha mendapat surat tugas untuk menjadi panitia acara kampus atau jabatan lain di kampus. Dari situ, AG mendapat kesempatan menghadiri rapat atau seminar di luar kota, dan mendapat uang kerja Rp 150.000 per hari serta uang perjalanan dinas harian Rp 450.000. Jika ditotal, dalam satu bulan ia bisa mendapat penghasilan tambahan sekitar Rp 1 juta.

***

YE (31), guru wali kelas IV sebuah SD swasta di Grogol, mendapat gaji Rp 3,3 juta per bulan. Saat awal bulan, gaji yang ia terima langsung diberikan kepada istri Rp 2,8 juta per bulan. Sisanya, Rp 500.000, untuk makan siang dan ongkos bensi motor dari rumah kontrakan di Bekasi. Dengan bagitu, ia hanya punya pegangan Rp 25.000 untuk satu hari. Uang itu ia gunakan untuk membeli bensin Rp 15.000 dan membeli lauk makan siang Rp 10.000. Dari rumah, ia sudah memasak nasi demi menghemat pengeluaran.

***

Pekerjaan terakhirnya adalah IT project manager di sebuah perusahaan rintisan di bidang lokapasar. Selama bekerja di situ lima tahun, ia mendapat gaji dua digit per bulan. Selain itu, ia juga punya sumber pendapatan lain dari kerja sampingan yang juga berkutat di bidang IT, dengan penghasilan belasan juta rupiah. Istrinya juga punya usaha kue rumahan dengan keuntungan sekitar Rp 5 juta per bulan.

Dengan total pemasukan mencapai puluhan juta per bulan, I merasa mampu membeli rumah kedua dengan cicilan Rp 17 juta per bulan. Di sisi lain, juga ada tanggungan cicilan rumah pertama Rp 12 juta per bulan dan mobil Rp 5 juta per bulan.

Kabar buruk datang pada Mei 2024. Perusahaan tempat I bekerja mengubah model bisnis. Dari yang sebelumnya berdagang secara daring, kini berubah total menjadi toko konvensional. Akibatnya, 90 persen personel IT dipangkas, termasuk I.

Di tembok rumah milik I (40) di Kota Bogor, kertas dinding mengelupas di mana-mana. Perabotan tinggal kursi tamu. Rumput liar pun mulai memberontak di taman yang tadinya tertata rapi. Rumah dua lantai itu baru saja laku. Mobil yang tadinya disimpan di garasi sudah lebih dulu dijual. Itu semua terpaksa dilakukan ayah dua anak itu untuk bertahan.

***

K (35), petugas kebersihan di Stasiun Tanah Abang. Penghasilannya sebesar Rp 100.000 per hari sering kali hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ia bahkan harus berbagi kamar dengan adik laki-lakinya yang bekerja sebagai pengojek daring, sehingga biaya sewa kos sebesar Rp 500.000 per bulan ditanggung berdua.

Saat ini dompetnya semakin tipis, sementara harga tiket bus ke Pekalongan sebesar Rp 320.000 sudah tak terjangkau. Kakak beradik itu pun bersiasat untuk mudik bersama dengan mengendarai sepeda motor. Biaya yang dikeluarkan pun dapat dihemat hingga Rp 270.000 per orang, karena pengeluaran untuk bahan bakar hanya sekitar Rp 100.000 sekali perjalanan. 

***

AS (33), karyawan swasta di Jakarta, memberanikan diri untuk mengunggah status Whatsapp pada Jumat, 14 Maret 2025, sekitar pukul 15.30 WIB. Hal ini ia lakukan karena  tiket bus dan kereta api tujuan Yogyakarta dan Semarang yang sudah ludes terjual.

"Ada yang mau balik ke Magelang naik mobil? Japri."

Sekitar delapan jam berselang, salah satu teman kuliahnya membalas statusnya tersebut.

"Kami sepakat untuk pulang berdua naik mobilnya. Nyetirnya gantian, bensin tanggungan dia, saya bayar tol sama makan. Ya, enggak beda jauh dengan harga kereta, tetapi yang penting bisa pulang," katanya.

***

Sementara itu, LM (45) justru sengaja membuka tumpangan agar ada teman mengobrol saat menyetir. Dengan begitu, ia tidak merasa kesepian saat mudik dari Bekasi menuju Cilacap. 

Ia mengunggah pesan ajakan mudik bareng ke Cilacap di halaman Facebook "Komunitas Nebeng". 

***

Di kampung halaman, warga Tepus, Gunungkidul, Yogyakarta biasanya melakukan bersih-bersih rumah untuk menyambut sanak keluarga yang datang. Bahkan ada pula yang sampai rela merogoh kocek agak dalam untuk melapisi tembok rumahnya dengan cat baru. 
 

***

Setiap Senin-Jumat, sekitar pukul 5.30 WIB, R (33) sudah rapi dengan jaket ojol miliknya. Tak lupa ia mengikat selendang, menjadikannya masker yang menutupi mulut dan masker. Aplikasi dan mesin motor bebek dinyalakan, ia siap menerima order dari penumpang. "Supaya bisa dapat Rp 300.000,kadang saya baru sampai di rumah pukul 23.00 WIB. Cuma, biasanya ada jeda istirahat makan selama narik," ujarnya saat ditemui di sekitar Sarinah, Jakarta Pusat, akhir Januari 2026.

Ia bekerja sebagai pengemudi ojol selama 1,5 tahun terakhir. Sebelumnya ia bekerja sebagai karyawan kontrak. Mulai dari karyawan toko roti, kurir paket, hingga operator kendaraan keluar-masuk pelabuhan. Upah yang diterimanya tak pernah melebihi upah minimum. Untuk menambah penghasilan, ia berdagang di car free day. Modal dari sebagian pendapatan ojol dibelikan pakaian grosir di Pasar Tanah Abang, lalu dijual pada hari Minggu. Adapun istrinya bekerja sebagai buruh serabutan.

***

H (45), guru honorer di salah satu madrasah tsanawiyah swasta di Tangerang Selatan, mendapat pendapatan Rp 700.000 per bulan. Ia sudah mengajar selama 13 tahun terakhir. Baginya, mengajar merupakan panggilan hidup. Sejak tujuh tahun terakhir, ia menjadikan ojol sebagai pekerjaan sampingan. Selepas mengajar sekitar pukul 14.00, haris narik ojol. Tak jarang, ia baru berhentik narik menjelang pukul 00.00. Pendapatan dari ojol berkisar Rp 1,8 juta - Rp 2,2 juta per bulan. Namun, sekitar Rp 500.000 harus dialokasikan untuk bensin, pulsa dan perawatan motor. 

Meski sudah berkeluarga, H tinggal di rumah orangtuanya. Untuk sekadar mengontrak rumah, ia tidak mampu, apalagi membeli rumah sendiri. Untuk saat ini, ia lebih fokus menabung agar bisa membeli motor yang layak. Motor yang ia gunakan sekarang sudah terlalu tua. Joknya keras, suspensinya tak lagi nyaman. Beberapa pelanggan bahkan sempat mengeluh. 

***

M (27), warga Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Selepas lulus dari bangku SMK, perempuan ini sempat bekerja sebagai buruh operator pabrik garmen di Jakarta. Saat pandemi Covid, pabrik garmen tempatnya ikut terpukul. Ia yang kala itu sudah menikah ternyata di PHK. Setelah itu, ia mencoba peruntungan melamar sebagai pekerja tata usaha di sebuah kantor pemerintahan, tetapi tidak bertahan lama. Dari sanalah dia memutuskan untuk menjadi pengemudi ojol secara penuh waktu.

"Saya baru bisa memperoleh Rp 300.000 mungkin setelah tiga hari bekerja pol-olan. Jika hujan deras, saya pun malah dapat penumpang yang minta diantar jauh-jauh. Di situ, sebagai pengemudi perempuan, saya kadang merasa khawatir juga harus berkendara sambil menjaga keselamatan penumpang," katanya.

Ketika ditanya cita-citanya, ia enggan menjawab. Namun, saat ditanya apakah ia tertarik kembali bekerja sebagai buruh pabrik garmen, dia mengiyakan. "Bekerja di pabrik mungkin tidak membuat saya harus berada di jalanan," ucapnya.

***

WDB (39), pengemudi ojek daring di Surabaya, menekuni profesi tersebut karena keterpaksaan setelah terkena PHK akibat Covid. Harapan awal menjadikan ojol sebagai penyangga ekonomi keluarga tak sepenuhnya terwujud. Pendapatan harian tidak menentu dan tergerus berbagai potongan.

Dari pendapatan kotor Rp 150.000 - Rp 200.000 pada hari ramai, aplikator memotong komisi hingga 20 persen, ditambah potongan harian agar akun tetap masuk sistem prioritas.

Istrinya (36), yang juga pengemudi ojol, menyebut potongan harian berkisar Rp 18.000 - Rp 34.000 per aplikasi. "Kalau tidak ikut sistem itu, order makin sepi," katanya. Setelah dikurangi bensin, makan, dan pulsa internet, penghasilan bersih mereka kerap tak mencapai Rp 100.000 per hari. Situasi tersebut memaksa mereka berdua bekerja hingga lebih dari 12 jam sehari.

Kondisi serupa dialami DU (44), pengemudi ojol di Balikpapan. Ia mengaku pendapatannya terus menurun dibandingkan awal menjadi ojol. "Tahun 2017, sehari bisa dapat Rp 250.000. Masih bisa nabung," ujarnya. Kini, setelah delapan jam bekerja, ia hanya memperoleh sekitar Rp 80.000 dan kerap harus narik hingga 12 jam untuk mengejar target minimal.

RH (48), pengemudi ojol di Surabaya, harus menyewa sepeda motor listrik dengan biaya Rp 75.000 per hari. "Kalau tidak dapat Rp 150.00 sehari, sudah rugi," ujarnya. Dari kerja seharian, ia biasa membawa pulang Rp 50.000 - Rp 100.000 untuk menghidupi anaknya.


Popular posts from this blog

020220250839a

23022025

13022025